Minggu, 27 Desember 2015

Semalam (Kahlil Gibran)

0

tumblr_mgf1pmNsuX1rkkhczo1_500.jpg (450×297)Semalam aku sendirian di dunia ini, kekasih;
dan kesendirianku... sebengis kematian...
Semalam diriku adalah sepatah kata yang tak bersuara...,
Di dalam fikiran malam.
Hari ini... aku menjelma menjadi sebuah nyanyian menyenangkan di atas lidah hari.
Dan, ia berlangsung dalam seminit dari sang waktu yang melahirkan sekilas pandang, sepatah kata, sebuah desakan dan... sekucup ciuman
Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Musim Bunga (Kahlil Gibran)

0

Marilah, sayang, mari berjalan menjelajahi perbukitan,
Salju telah cair dan Kehidupan telah terjaga dari lenanya
dan kini mengembara menyusuri pegunungan dan lembah-lembah,
Mari kita ikut jejak-jejak Musim Bunga, yang melangkaui
Ladang-ladang jauh, dan mendaki puncak-puncak perbukitan
'Tuk menadah ilham dari aras ketinggian,
Di atas hamparan ngarai nan sejuk kehijauan.
Fajar Musim Bunga telah mengeluarkan pakaiannya
dari lipatan simpanan, dan menyangkutnya
pada pohon pic dan sitrus , dan mereka kelihatan bagai pengantin dalam upacara tradisi Malam Kedre..
Sulur-sulur daun anggur saling berpelukan bagai kekasih
Air kali pun lincah berlompatan menari ria,
Di sela-sela batuan, menyanyikan lagu riang.
Dan bunga-bunga bermekaran dari jantung alam,
Laksana buih-buih bersemburan, dari kalbu lautan
Kemarilah, sayang: mari meneguk sisa air mata
musim dingin, dari gelas kelopak bunga lili,
Dan menenangkan jiwa, dengan gerimis nada-nada
Curahan simfoni burung-burung yang berkicauan
dan berkelana riang dalam bayu mengasyikkan
Mari duduk di batu besar itu, tempat bunga violet
berteduh dalam persembunyian, dan meniru
Kemanisan mereka dalam pertukaran kasih rindu.
Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Bayang (Kahlil Gibran)

0

Setiap langkah ku ada dia..
Mengikuti di belakang punggungnya. .
Gelap dan tak terlihat..
Kasat mata..
Terdiam kala banyak yang membicarakannya. .
Seakan tak seorang pun memandang kearah ku..
Sibuk mengagumi pesonanya..
Sibuk meminta senyumannya. .
Akulah sang tak terlihat..
Saat dia berada di dekat ku..
Akulah sang gelap..
Dibalik wajah cerah nya..
Akulah sang kasat mata..
Ada namun seakan tak ada..
Akulah sang bayang..
Sesuatu yang tak dianggap ada..
menunggu
Hari terhitung minggu
Minggu pun menjadi bulan..
Pagi ku mengingat mu
Malam ku mengenangmu
Tetap saja semua sama
Sejak kau pergi..
Ku masih saja menanti mu
Hingga kau kembali
Dan takkan tinggalkan ku lagi..
Entah kapan..
Menunggu mu masih..
Setia tetap ku janji..
Hingga ku dapat kau kembali..
Bersama jalani hari..
Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Musim Dingin (Kahlil Gibran)

0

Dekatlah ke mari, oh teman sepanjang hidupku,
Dekatlah padaku, dan jangan biarkan sentuhan Musim Dingin,
Mencelah di antara kita. Duduklah disampingku di depan tungku,
Sebab nyalaan api adalah satu-satunya nyawa musim ini.
Bicaralah padaku tentang kekayaan hatimu,
Yang jauh lebih besar daripada unsur Alam yang menggelodak
Di luar pintu.
Palanglah pintu dan patri engselnya,
Sebab wajah angkasa menekan semangatku
Dan pemandangan ladang-ladang salju
Menimbulkan tangis dalam jiwaku.
Tuangkan minyak ke dalam lampu, jangan biarkan ia pudar,
Letakkan dekat wajahmu, supaya aku boleh membaca dalam tangis
Apa yang telah ditulis pada wajahmu
Tentang kehidupan kau bersamaku..
Berilah aku anggur Musim Gugur, dan mari minum bersama
Sambil mendendangkan lagu kenangan pada ghairah Musim Bunga
Dan layanan hangat Musim Panas, serta anugerah
tuaian dari Musim Gugur.
Dekatlah padaku, oh kekasih jiwaku; api mendingin dalam tungku,
Menyelinap padam nyalanya satu-satu, dari timbunan abu
Dakaplah aku, sebab aku ngeri akan kesepian.
Lampu meredup, dan anggur minuman membuat mata sayu mengatup.
Mari kita saling berpandangan, sebelum mata tertutup.
Cari aku dengan rabaan, temui daku dalam pelukan
Lalu biarkan kabus malam merangkul jiwa kita menjadi satu
Kucuplah aku, kekasihku, kerana Musim Dingin,
Telah merenggut segala, kecuali bibir yang berkata:
Engkau dalam dakapan, oh Kekasihku Abadi,
Betapa dalam dan kuat samudera lena,
Dan betapa cepatnya subuh...
Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Wajah-Wajah (Kahlil Gibran)

0

Waktu tak pernah adil..
Kadang ia berikan waktu yang panjang untuk kesedihan...
Dan ia berikan waktu yang sangat pendek untuk merecap kebahagiaan.
Namun Nikmat-Nya yang mana lagikah yang harus kudustai?
Panjang pendek waktu... harus kunikmati
Sedih ku syukuri...
Bahagia ku syukuri...
Karena hidup hanya sekali
Ketika ku sedih...
Kuingat mereka yang lebih sedih dariku
Agar aku punya lebih banyak semangat
ketika ku sedih..
kuingat mereka yang sedikitnya mengingatku
Agar ingatan mereka tentangku tak kan pernah pudar
Ketika ku bahagia..
kuingat mereka yang sedang bersedih
agar aku datang dan menghibur mereka
atau menangis bersama
Cinta.. rindu.. benci.. cemburu..
sudah tak ingin kurasakan lagi
Tak mungkin memulai kisah yang tak mungkin terjadi.
Hanya kasih yang ingin kutebarkan
Hanya kasih...
Maka kupejamkan mata dan mengingat wajah-wajah. ..
Wajah-wajah yang pernah mengenalku satu persatu...
Wajah-wajah yang dengan mengingatnya menjadikan ku bahagia....
Dan salah satu wajah itu adalah KAU....
Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Kan Ku Abaikan Segala Hasratku (Kahlil Gibran)

0

Kan kuabaikan segala hasratku
Agar kau tenang kan hatimu
Kupertaruhakan semua ragaku
Demi dirimu bintangku
Biarkan ku menggapaimu
Biarkan ku memanjakanmu
Dengan segala rasa yang kumiliki
Dan tak untuk menyakiti
Begitu indah rasa hasratku
Untuk memilikimu
Karena semua hanya hayalku
Apakah kan jadi miliku
Hidup ini indah
Walau takdir kadang tak ramah
Kuharus terus berlari
Sebelum nafasku berhenti
Tuk wujudkan semua mimpi
Menjelang masa depan yang kuingini
Kuingin suatu hari nanti
Bila semua mimpi hati telah kuraih
Ku ingin menghampiri dirimu lagi
Tuk memintamu menjadi pendamping diri Menjadi istriku
Dihatimu akan ku labuhkan cinta terakhirku
Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Hapus Air Matamu (Kahlil Gibran)

0

Hapus air matamu
Aku tak ingin kau menangis lagi sayang
Yakin kan hati
Diriku tak akan memilih meninggalkanmu
Sekian waktu bersama
Tak bisa menepis kenyataan
Kita berbeda jalani keyakinan
Tapi kau yang kuinginkan dari segalanya
Setiap rinduku hanya memanggilmu
Ku yakin kaupun mengerti
Ku tak ingin menanggalkan hati
Yang telah satu untuk dirimu
Sayangku dengarkan aku
Takmungkin ku melepasmu
Kan kupertahankan Kau cinta aku
Dan semua air matamu kan berarti dihidupku
Bawalah cintaku bersamamu
Karena ku tetap miliku selamanya
Dan menikahlah denganku
Bahagialah sampai batas waktu tak terhenti
Ku hanya ingin kau jadi istriku
untukmu satu cinta dihati
Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Sebutir Debu (Kahlil Gibran)

0

Adalah sebutir debu…
Meringkuk kedinginan… Mengitari bumi tanpa rona
Selimut kecilnya tersapu angkasa
Rajut penghangatnya tercerai tanpa janji
Rindu…
Masih mendekam dalam setiap detak jantung nafasnya
Walau hanya sekedar sapa.. hanya sebatas tanya
Di setiap penat letih dan keterpurukan nya
Dia berlari di tengah gurun gulita
Mengais-ais oase kehangatan
Bintang di tirai angkasa, tak cukup untuk menghangatkan nya
Mencari bulan, namun raib
Mentari, ia pun terlelap.
Biarkan....
Biarkan saja dia sendiri
Menikmati renungan gulita
Biarkan sang raja malam mengurungnya
Memenjarakan nya dalam gelap
Menghangatkan diri sendiri di perapian bagaskara.
Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Lagu Ombak (Kahlil Gibran)

0

Pantai yang perkasa adalah kekasihku,
Dan aku adalah kekasihnya,
Akhirnya kami dipertautkan oleh cinta,
Namun kemudian Bulan menjarakkan aku darinya.
Kupergi padanya dengan cepat
Lalu berpisah dengan berat hati.
Membisikkan selamat tinggal berulang kali.
Aku segera bergerak diam-diam
Dari balik kebiruan cakerawala
Untuk mengayunkan sinar keperakan buihku
Ke pangkuan keemasan pasirnya
Dan kami berpadu dalam adunan terindah.
Aku lepaskan kehausannya
Dan nafasku memenuhi segenap relung hatinya
Dia melembutkankan suaraku dan mereda gelora di dada.
Kala fajar tiba, kuucapkan prinsip cinta
di telinganya, dan dia memelukku penuh damba
Di terik siang kunyanyikan dia lagu harapan
Diiringi kucupan-kucupan kasih sayang
Gerakku pantas diwarnai kebimbangan
Sedangkan dia tetap sabar dan tenang.
Dadanya yang bidang meneduhkan kegelisahan
Kala air pasang kami saling memeluk
Kala surut aku berlutut menjamah kakinya
Memanjatkan doa
Seribu sayang, aku selalu berjaga sendiri
Menyusut kekuatanku.
Tetapi aku pemuja cinta,
Dan kebenaran cinta itu sendiri perkasa,
Mungkin kelelahan akan menimpaku,
Namun tiada aku bakal binasa.
Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Memorial

0



Selamat Pagi, Ibu Pertiwi
Maafkan hati sunyi ini yang tak mampu mengerti caranya mengampuni
Yang kutahu hanya caci maki
Yang kurasa hanya pedih di dalam ulu hati
Tapi, karena diri ini disentil nyali…
Sehigga aku lupakan caranya berdamai dengan diriku sendiri
Aku terlalu dini untuk menahan ego diri
Aku terlalu berani untuk maju menantang kau… para petinggi
Tapi, bagaimana mungkin aku bisa berdiam diri sedangkan barisan kriminalisasi mentertawakan kami
Tapi bagaimana mungkin aku bisa terus berdiri
Membentangkan diri dari pagi bertemu pagi
Mengangkat kepala untukmu, Ibu Pertiwi
Di tengah mahalnya harga peduli
Maafkan aku yang mungkin tak akan sanggup, Gusti…
Saat aku memilih untuk pergi
Yang kudengar hanya hingar bingar
Aku berusaha menjadi tuli
Sampai akhirnya aku bosan mendengar tangisan si badan kekar
Maafkan hati sunyi ini yang tak mampu mengerti caranya mengampuni
Yang kutahu hanya caci maki
Yang kurasa hanya pedih di dalam ulu hati
Tapi, karena diri ini disentil nyali…
Sehigga aku lupakan caranya berdamai dengan diriku sendiri
Sampai aku temukan hari telah berganti
Meninggalkan kenangan yang hanya bisa disimpan dalam memori
Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Monolog Jalang

0



Malam memuram. Aku tau kau malas menampakkan diri. Bergerak turun pun kau tak sudi dari singgasana itu. Aku mengerti. Karena kuperlakukan kau dengan sangat tidak manusiawi.
Iya kan? Dendamkah kau?
Dan saat keputusan ini tiba, di mana kekuasaan berada di tanganmu sepenuhnya, apakah kau ingin hadir dengan prediksi yang tersia-sia olehku atau mati dengan luka meruah di atas singgasana itu, maka kuputuskan untuk memberitahumu akan sesuatu.
Sebelum aku atau kau yang binasa, inginkah kau tahu kenapa kuperlakukan kau seperti itu selama ini? Seakan-akan kau nihil dalam hidupku dan tidak kuindahkan keberadaanmu sebagai seorang anak manusia, inginkah kau mengetahuinya?
Setidaknya dengarkan dulu penjelasanku sebelum kita berdua memalingkan wajah satu sama lain karena ketidaktertarikanmu pada hidup ini. Asal kau tahu, hidup ini adalah penderitaan. Atau memang hanya hidupku saja yang menderita sebegitu parahnya hingga terlalu pilu untuk dijadikan sebuah lagu?
Hai, kau yang sedang duduk di singgasana kehormatan itu! Aku memulai kisah ini dengan kepiluan kacang yang dipaksa terlepas dari kulitnya. Ditekan, dikuliti dan dilepas tanpa perasaan, seperti jalang. Lalu dimakan dengan sekali gigit dan berakhir dalam sebuah telan.
Kupikir mereka sayang, maka aku pun senang. Kukira mereka tulus, tidak tahunya hanya akal bulus. Bagi mereka, kehadiran seorang anak adalah untuk menambah pemasokan beras di rumah. Jual tubuh. Mereka menukarku untuk segantang beras. Dengan harapan aku senang dan mereka dapat kenyang.
Dalam usia ketika aku baru mengerti bahwa Tibet berbeda dengan Tebet, aku digiring dengan kawat besi, dipaksa menjadi makanan harian yang dilepas satu-persatu secara perlahan oleh mereka yang tak tahu .
Oleh manusia-manusia penjambak rambut itu, aku memar dan terluka untuk selamanya. Tak ada yang dapat menambal kepercayaanku yang telah koyak kepada kaum-kaum itu. Adakah yang baik? Yang berbeda spesies dari yang kuhadapi selama ini? “Jika ada, potong tanganku dan cacah dagingnya!” teriakku.
Dan saat mengetahui kau memilihku untuk hidup bersama kelak, aku hanya bisa acuh. Sakit ini pada hidup yang kejam, sudah terlalu banyak tinta hitam dalam kertas putihku sebagai seorang manusia. Bagiku ia hanya kelam. Tak butuh aku ganti kertas putih penuh noda itu.
Hati nuraniku mulai cerewet. Ia minta agar aku memulai lagi dengan kertas putih yang baru, untuk kujalani bersamamu kelak. Kubilang bahwa aku tidak mengharapkanmu untuk memilihku. Dengan adanya kau, hidupku menjadi bertambah sulit. Dulu kupikir aku tak akan mengenal kebaikan lagi, hanya kepahitan.
Tapi aku salah! Kau, walaupun tak berdaya, mengajarkanku sebuah kehidupan yang harus kujaga. Merekuh sebuah perantara selaput kulit. Kita hanya terpisah beberapa cm dalam tubuh yang sama. Aku dapat merasakanmu ketika kau mulai ingin bermain. Tidak sabar keluar dan ingin menantang dunia.
Kau kukenal tak lebih separuh usiaku. Aku menjadi mengerti makna berbagi, ketulusan, kasih sayang dan penerimaan. Cinta kasih yan luar biasa dianugerahkan hanya untuk pelacur jalang sepertiku. Kau mengajariku begitu bayak pelajaran akan hidup ini.
Dan setelah berbulan-bulan, dalam sebuah ruangan persegi berwarna putih ini, keringat dinginku mulai bercucuran. Demi melihat nafasmu. Aku meregang nyawa di ruangan ini, demi melihat apakah kau mencintaiku atau ingin meninggalkanku seperti mereka. Dan dalam regangan nyawa ini aku paham bahwa kau ingin membuatku mengerti akan hidup ini.
Kurasai kau mengangguk. Melorot perlahan untuk turun. Menyetujui untuk turun dari singgasana itu, menyambutku keluar dan meneriakkan tangisanmu yang kuketahui selama ini kau pendam. Aku tarik seribu nafasku agar kau dapat leluasa keluar. Dengan segenap kekuatan dunia yang kumiliki selama ini kukerahkan kau untuk turun dari singgasana yang enggan melepasmu.
Teriakan itu. Tangis itu. Aku dan kau bagai terlahir menjadi selembar kertas putih. Aku menjadi baru dan kita bersatu.
Dan disaat rintih tak dapat kurengkuh, maka desahan lagu itu akan mereguk nafas kita berdua. Tangismu mewujud dalam harmoni. Siluet putih itu menjemputku pergi menjauh darimu yang baru saja setuju untuk turun memeluk.
Maaf, kutitipkan kau pada dunia dengan segala doa terbaikku agar kau aman untuk hidup. Aku tau kau menggenggam jari telunjukku erat. Di atas perutku, kau menempelkan tubuhmu tak mau berpisah. Aku tau kau ingin mendengar detak jantungku yang perlahan mulai memelan iramanya kan?
Jangan khawatir! Walaupun detak jatung ini tak dapat kau dengar nanti, aku selalu menjadi irama dalam harmonimu, menjadi lirik dalam lagumu dan menjadi nada dalam musikmu.
Terimakasih atas kelahiranmu, terimakasih atas kematianku.
Lanjutkan harmoni itu, nak. Rengkuh ia dan genggam erat tanpa harus kau rasa terjatuh seperti hidupku.
Salam, ibu yang melahirkan dan menyayangimu.
Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Kamis, 10 Desember 2015

Kembali Hujan

0



Tersadar banyak hal terlewati..
Detik demi detik berlalu singgah di ujung sepi..
Gemericik hujan berdansa..
Mengajak ku keluar dan menari bersamanya..
Namun ada sesuatu menahanku..
Secangkir senyum yg tumpah..
Turun ceria bersembunyi dalam tetesan air hujan..
Aku tersentak, diam terpaku..
Dengan Menahan busur kenangan mendekat..
Sungguh tak ingin kembali..
Kembali terbenam di lautan kisah lalu yang manis..
Sebab aku pernah berdiri dibelakang kursi yg kau duduki dengan seseorang saat hujan..
Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Sore Hujan

0



Sore Hujan..
Nampak murung kau
Tak biasanya kau menangis haru begitu
Ceritakan padaku
Hal apa yg barusaja berlalu?
Sore hujan..
Mendekat kemari
Duduk dan usap air matamu itu
Usah bersedih
Mentari menunggu kisahmu
Sore Hujan..
Berapa banyak tangisanmu?
Tak sanggup aku bosan menghitung
Kemarilah
Ceritakan padaku
Hai Hujan..
Sejatinya kau sama denganku
Disaat panas aku mengeluh
Panas terik seakan tak lagi berarti
Hai Hujan..
Mereka menghinaku seraya mencaci
Sungguh kamu rasakan itu
Disaat kau menangis
Satu hal yg aku tau
Ialah ketenangan untukku
Dan harus kau tau juga
Panas terik setelah hujan
Adalah selimut kehangatan dariku
Agar kau ceria kembali.
Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Follow Me

Facebook  Fanspage Twitter  Google+ Instagram gmail