![]() |
Hari-hari membosankan masih terus berlanjut, kiranya sampai saat ini saya belum mengerti bagaimana caranya patuh pada aturan yang melarang berambut gondrong, padahal bukan kali pertama saya ditemui kondisi seperti ini.
Cerita dimulai ketika saya duduk di Madrasah Tsanawiyah (MTS) atau setingkat SMP.
saat itu di hari yang agak mendung saya bersama sekawanan anak bengal duduk di teras kelas. biasanya kami sekedar makan gorengan barsama, dan bercerita dalam gelak tawa sembari menunggu bel alarm tanda waktu istirahat habis berbunyi. tetapi tak jarang kamipun mengulas sedikit pengetahuan baru hasil bersetubuh dengan pelajaran tadi pagi.
sebetulnya kami tahu bahwa hari ini ada kejutan spesial untuk siswa yang gondrong. salah seorang sahabatku sebut saja dia Mangkok yang notabene menjabat di OSIS membocorkan hal ini beberapa hari sebelumnya. kamipun bergegas mengatur strategi dan taktik guna mengantisipasi hal itu terjadi, sebab yang menjadi permasalahan sebenarnya ialah bukan karena rambut kami bagus, lurus, atau apalah. "tapi kami merasa gagah dan tampan dengan rambut yang berkilau kuat dan wangi" meski hanya perasaan. lalu kami menyepakati hasil dari rancangan stratak yaitu menggunakan taktik sif atau kami menyebutnya dengan sebutan TakSif (engga oke) karena senada dengan kondisi yang akan kami hadapi.
aturannya terbagi dua, sif pagi (jam ke1 - ke 3) dan sif siang (jam ke5 -ke7). deskripsinya yaitu orang-orang di sif pagi dilarang memasuki kelas dan menunggu di luar sambil mengontrol situasi, apabila melihat target kunci yaitu Bu Sri atau Pak Iim atau keduanya memasuki kelas demi kelas berarti operasi kejutan sudah dimulai. dan begitupun sif siang.
saya yang kebetulan terpilih sebagai bagian dari sif pagi menjalankan tugas dengan hati sedikit waswas dan saya pun berjaga bersama 2 orang lainnya yang katanya juga waswas.
nampaknya jam sudah menunjukan jam 9 lebih dan sejauh ini situasi kondisi masih relatif stabil dan aman aman saja, meski sedikit tenang namun tak menyurutkan semangat kami untuk tetap bersiaga.
dan akhirnya sejam kemudian terdengar bel alarm tanda waktu istirahat.
lalu kami berkumpul di teras kelas sambil makan gorengan dan bercerita dalam gelak tertawa. sesekali saya temui teman dikelas lain untuk dimintai informasi terkait pergerakan Bu Sri dan Pak Iim dan sepertinya kabar baik masih memihak saya.
saat itu di hari yang agak mendung saya bersama sekawanan anak bengal duduk di teras kelas. biasanya kami sekedar makan gorengan barsama, dan bercerita dalam gelak tawa sembari menunggu bel alarm tanda waktu istirahat habis berbunyi. tetapi tak jarang kamipun mengulas sedikit pengetahuan baru hasil bersetubuh dengan pelajaran tadi pagi.
sebetulnya kami tahu bahwa hari ini ada kejutan spesial untuk siswa yang gondrong. salah seorang sahabatku sebut saja dia Mangkok yang notabene menjabat di OSIS membocorkan hal ini beberapa hari sebelumnya. kamipun bergegas mengatur strategi dan taktik guna mengantisipasi hal itu terjadi, sebab yang menjadi permasalahan sebenarnya ialah bukan karena rambut kami bagus, lurus, atau apalah. "tapi kami merasa gagah dan tampan dengan rambut yang berkilau kuat dan wangi" meski hanya perasaan. lalu kami menyepakati hasil dari rancangan stratak yaitu menggunakan taktik sif atau kami menyebutnya dengan sebutan TakSif (engga oke) karena senada dengan kondisi yang akan kami hadapi.
aturannya terbagi dua, sif pagi (jam ke1 - ke 3) dan sif siang (jam ke5 -ke7). deskripsinya yaitu orang-orang di sif pagi dilarang memasuki kelas dan menunggu di luar sambil mengontrol situasi, apabila melihat target kunci yaitu Bu Sri atau Pak Iim atau keduanya memasuki kelas demi kelas berarti operasi kejutan sudah dimulai. dan begitupun sif siang.
saya yang kebetulan terpilih sebagai bagian dari sif pagi menjalankan tugas dengan hati sedikit waswas dan saya pun berjaga bersama 2 orang lainnya yang katanya juga waswas.
nampaknya jam sudah menunjukan jam 9 lebih dan sejauh ini situasi kondisi masih relatif stabil dan aman aman saja, meski sedikit tenang namun tak menyurutkan semangat kami untuk tetap bersiaga.
dan akhirnya sejam kemudian terdengar bel alarm tanda waktu istirahat.
lalu kami berkumpul di teras kelas sambil makan gorengan dan bercerita dalam gelak tertawa. sesekali saya temui teman dikelas lain untuk dimintai informasi terkait pergerakan Bu Sri dan Pak Iim dan sepertinya kabar baik masih memihak saya.
Singkat cerita hari itu berakhir seperti harapan, tetapi melihat kondisi yang tidak sesuai dengan kabar yang beredar membuat kami semua bertanya-tanya. kenapa? mengapa? kunaon? kunaha? dan banyak lagi pertanyaan yang mengantarkan langkah kami menuju pulang.
hari-hari kemudian berjalan kembali seperti biasa, sampai-sampai kami larut menikmati kesenangan dan melupakan tentang operasi kejutan. dan ternyata bahwa kabar yang beredar waktu itu telah di revisi karena pihak yayasan mengetahui kebocorannya informasi tersebut dan merubah waktu operasi kejutan menjadi hari ini.. ohdemmmm!!!
tak satupun termasuk saya mengira ini bakal terjadi. dan akhirnya, dengan segala kenyamanan, kebahagiaan, kesemprunaan cintaaaa (eiitss bukann!!).. tapi dengan segala kesedihan, kemarahan ketakutan terpaksa kami menyerahkan kepala berserta rambutnya untuk di gunting.
satuhal yang kami rasakan, yaitu sungguh MENGEJUTKAN!!!
satuhal yang kami rasakan, yaitu sungguh MENGEJUTKAN!!!
Meskipun di hari-hari selanjutnya ketampanan kami mengalami degredasi cukup signifikan sehingga tak lagi menjadi primadona di sekolahan dan malah menjadi bahan bully-an siswa-siswi seantero kelas.
Namun setidaknya kami memetik pelajaran dari sini, bahwa waktu takan selalu berpihak pada kita dan hendaknya senantiasa mengabdikan diri pada sejarah yang tak pernah lelah menggurui kita.
disepanjang waktu yang masih membosankan saya lalui dengan perasaan depresi dan akhirnya saya di vonis mengalami Didaskaleinphobia atau phobia pergi ke sekolah oleh seorang dokter-dokteran yang sedang bermain disamping rumah.
waktu beranjak sangat lambat, kini saya menjadi seorang senior di SMA. bukan karena bisa apa, atau kecerdasannya. tapi ya cuma sudah kelas 3 dan sebentar lagi mau hengkang dari dunia sekolah. cerita-cerita yang terekam masih sama seperti dulu waktu di MTS yaitu main susumputan dengan guru BP. sepintas merasa lucu mengingat hal itu tapi saya rasa hal seperti inilah yang akan menjadi obrolah kelak ketika perjumpaan setelah lama tak bertemu sahabat-sahabat di sekolah.
Akhirnya pelulusan tiba, kini saatnya menjalani hari-hari sesungguhnya. namun hanya saya yang pergi dan sengaja saya tinggalkan sebungkus kenangan di bawah bangku paling belakang kelas akhir yang setia menjadi teman dalam saat-saat terakhir. agar bisa ku temui lagi nanti saat pulang.
roda kehidupan masih terus berlanjut dan sampailah di sebuah peradaban yang mengkritik, membaca, berdiskusi menjadi suatu keharusan!. yaa tepatnya kini saya sudah dewasa dan terdaftar sebagai mahasiswa di universitas UIN SAGEDE BANUNG meski sampai sekarang aku belum mampu menjadi mahasiswa seutuhnya.
TAPI ternyata lagi-lagi saya di buat terkejut oleh waktu, pasalnya Fakultas yang ku huni sekarang memiliki aturan yang sama dengan sekolahanku dulu yaitu JANGAN BERAMBUT GONDRONG. dan yang lebih parahnya lagi tenyata TUKANG CUKURNYA JUGA BOTAK serupa dengan guru BP saya di sekolah. pertanyaannya apakah harus botak dulu buat bisa jadi tukang cukur?. anjirrr pan!! jadi serasa bernostalgia weh.... bersiap melakukan operasi TakSif!!!!!!!!!!!!
Di akhir semester 3 saya berniat kembali buat gondrong, selain memang keinginan yang berontak juga salah satunya karena doktrin dari sahabat-sahabatku di organisasi dan yang paling penting biar ketampanan dan kegagahan ku keluar dari persembunyiannya. jadi berangkatttttkannnnn sajaaaa.
Nampaknya hari-hari sial yang malah datang. di pertengahan semester 4 aku kepergok oleh tukang cukur yang botak itu di lantai 2 dekat tangga menuju atas, ia menceramahiku selama kurang lebih 2 hari 3 malam disana. kutipan pembicaraan yang ku ingat hanya bagian isinya saja, katanya "aduh adek ini, ga liat itu? (menunjuk tulisan berbagai aturan). pokoknya bapak ga mau tau besok harus sudah dicukur!. dimana pantesnya rambut gondrong kayak gitu? mending pendek rapi kayak bapak!!! terlebih lagi jika masih ada mahasiswa fisip yg gondrong maka tidak akan di ikutkan dalam ujian akhir semester"WTF!.
selama ceramah berlangsung saya hanya berpura-pura mengangguk saja, sambil mengingat-ngingat kutipan tadi!!.
(Mohon maaf pada pihak yang terkait, bukan maksud menghina.)
To Be Continued.







