Jumat, 22 April 2016

Rumah Kecilku

0


Rumah Kecilku..

masih teringat saat rumahku mulai dibangun
saat tumpukkan batu-bata dan pasir tersusun
aku duduk bersama orangtuaku
melihat dan sesekali ikut bekerja meski sekedar mengotori tubuhku
semua tertawa, mungkin terlihat lucu saat ku jatuh di atas adukan tanah itu
dan malah sengaja berguling-guling hingga tubuhku yang hitam tampak semakin dekil
haha.. meski sakit akupun terbawa tawanya yang riang
disudut lain aku melihat rumahku mencuri pandang
mengintip diam-diam lalu ikut tertawa diam-diam
aku menoleh pura-pura tak melihatnya
ia tampak hanyut dalam harapan dan cinta yang sedang aku tanam

hari-hari berjalan sama
sampai aku tak sadar rumah kecilku hampir selesai dibangun
banyak hal terlewati yang aku simpan untuk ku kisahkan nanti saat aku pergi
dan menjadi kepingan peristiwa yang takan pudar meski air laut pasang melahap sisa usia

hingga tibalah saat-saat perpisahan
sebuah pilihan antara menangis dan terkubur dalam jurang air mata
mencoba kuat pun percuma
bendungan kepedihan tetap meluap menusuk singgasana hati

di sepanjang jalan yang dulu tertanam bunga-bunga kini hilang
tak ada suara unggas yang menjadi pengantar tidur
nyanyian alam saat tubuh lelah di hianati waktu
tergantikan oleh dera amarah..

lalu teringat satu kisah
saat perpisahan dengan rumah kecilku
ia membawaku melihat kembali harapan dan cinta yang aku tanam dahulu
"ternyata ia telah tumbuh"
"saat kamu terlelap tidur dan berteriak dalam senar gitar yang kau mainkan, aku selalu kesini untuk ku petik setangkai bunga dan ku selipkan dalam hatimu agar kau mengingatku dan janji ku yang akan merindukan saat-saat pulang"

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

0 komentar:

Posting Komentar

Follow Me

Facebook  Fanspage Twitter  Google+ Instagram gmail