Dengan tangan-Nya tercipta segala rupa wajah dunia
Hisan sempurna dari malam yang gelap
Gemericik hujan,
Dan air yang perlahan turun,
Menjadi impian tatkala tubuh lelah nan lemah kekeringan.
Namun tak biasanya malam ini jelas gelap
Lampu-lampu rumah dikampungku redup
Seakan membawaku ke dalam ingatanya
dahulu ketika ia bermain dalam nama prasejarah.
saat cahaya lilin memenuhi sudut ruang imajinasi
lembut, bersatu dengan derai hujan
terlihat seperti menari-nari
sebab aku tahu sang angin genit menggodanya tanpa henti
perlahan tertutuplah realita
termuntahkan segala kenyataan pahit yang memaksa ku setia mencium kening kebosanan
namun aku tak semudah itu untuk pasrah
walau pelukkannya semu nampak menyenangkan
akhirnya mata ku bersembunyi
mencoba lagi berhianat pada cinta, lara, duka, dan air mata
hingga luapan emosi terberai tumpah mejadi hari-hari
seketika HILANG.
seketika HILANG.








0 komentar:
Posting Komentar