Pendahuluan
Kata filsafat berasal dari bahasa Yunani, philosophia, yang terdiri atas dua kata : philos (cinta) atau philia (persahabatan, tertarik kepada) dan sophia (hikmah, kebijaksanaan, pengetahuan). Jadi secara etimologi, filsafat berarti cinta kebijaksanaan atau kebenaran. Secara umum filsafat berarti upaya manusia untuk memahami segala sesuatu secara sistematis, radikal, dan kritis. Orang Yunani senang akan kebijaksanaan yang selalu diarahkan kepada kepandaian secara teoretis dan praktis. Kepandaian yang bersifat teoretis adalah upaya manusia mencari pengetahuan yang penuh dengan gagasan dan ide yang tentunya sejalan dengan cara pikir mereka. Kepandaian yang bersifat praktis adalah upaya mencari pengetahuan yang diarahkan untuk menemukan kegunaan pengetahuan itu.
Berbicara mengenai ilmu maka
tidak akan terlepas dari filsafat. Semua ilmu, baik ilmu alam maupun ilmu
sosial bertolak dari pengembangannya sebagai filsafat. Perkembangan ilmu
pengetahuan terbagi menjadi beberapa periode sejarah yang setiap periodenya
memiliki ciri khas masing-masing. Periodisasi perkembangan ilmu pengetahuan dimulai
dari peradaban Yunani Kuno, Zaman Pertengahan, Zaman Renaissance, Zaman Modern,
dan Kontemporer, secara ringkas disusun sebagai berikut:
Yunani Kuno
Zaman Yunani Kuno merupakan awal
kebangkitan filsafat secara umum karena menjawab persoalan disekitarnya dengan
rasio dan meninggalkan kepercayaan terhadap mitologi atau tahyul yang
irrasional.
Zaman Pertengahan
Pada masa ini, para ilmuwannya
hampir semua adalah teolog, sehingga aktivitas ilmiah berkaitan dengan
aktivitas keagamaan. Semboyan yang berlaku bagi ilmu pada masa ini adalah ancilla
theologia atau abdi agama.
Zaman Renaissance
Renaissance berarti lahir kembali
(rebirth), yaitu dilahirkannya kembali sebagai manusia yang bebas untuk
berpikir. Zaman ini menjadi indikator bangkitnya kembali independensi
rasionalitas manusia, karena sudah tercatat banyaknya penemuan spektakuler,
seperti teori heliosentris oleh Copernicus, yang merupakan pemikiran
revolusioner, dan kemudian didukung oleh Johanes Kepler (1571 – 1630) dan
Galileo Galilei (1564 – 1642).
Zaman Modern
Dikenal juga sebagai masa
Rasionalisme, yang tumbuh di zaman modern dengan tokoh utama, yaitu Rene
Descartes (1596 – 1650) yang dikenal sebagai Bapak Filsafat Modern, Spinoza
(1633 – 1677), dan Leibniz (1646 – 1716). Descartes memperkenalkan metode
berpikir deduktif logis yang umumnya diterapkan untuk ilmu alam.
Kontemporer
Zaman Kontemporer dimulai pada abad ke 20 hingga sekarang. Filsafat Barat kontemporer memiliki sifat yang sangat heterogen. Hal ini disebabkan karena profesionalisme yang semakin besar. Sebagian besar filsuf adalah spesialis di bidang khusus, seperti matematika, fisika, sosiologi, dan ekonomi. Akan tetapi bidang fisika menempati kedudukan paling tinggi dan paling banyak dibicarakan oleh para filsuf. Menurut Trout, fisika dipandang sebagai dasar ilmu pengetahuan yang subjek materinya mengandung unsur-unsur fundamental yang membentuk alam semesta.
Aliran-aliran terpenting yang berkembang dan berpengaruh pada abad 20 adalah
pragmatisme, vitalisme, fenomenologi, eksistensialisme, filsafat analitis,
strukturalisme, postmodernisme, dan semiotika.
PRAGMATISME
Aliran ini sangat terkenal di
Amerika Serikat. Pragmatisme mengajarkan bahwa sesuatu hal yang benar adalah
sesuatu yang akibatnya bermanfaat secara praktis. Jadi, pragmatisme memakai
akibat-akibat praktis dari pikiran dan kepercayaan sebagai ukuran untuk
menetapkan nilai kebenaran. Kelompok ini bersikap kritis terhadap sistem-sistem
filsafat sebelumnya seperti bentuk – bentuk aliran materialisme, idealisme, dan
realisme. Mereka berpendapat bahwa filsafat pada masa lalu telah keliru karena
mencari hal – hal yang mutlak, yang ultimate.
Tokoh yang terpenting dalam
aliran ini adalah William James (1842-1910). Pragmatisme pertama kali diumumkan
dalam sebuah kuliah di Berkeley pada tahun 1898, berjudul “Philosophical
Conceptions and Practical Results”. Sumber-sumber lanjutan mengenai pragmatisme
disampaikan di Wellesley College pada tahun 1905, Lowell Institute, dan
Columbia University pada tahun 1906 dan 1907.
Pragmatisme yang muncul dalam
bukunya terbagi menjadi enam hal : temperamen filosofis, teori kebenaran, teori
makna, holistik tentang pengetahuan, pandangan metafisika, dan metode
penyelesaian sengketa filosofis.
James memandang pemikirannya
sebagai kelanjutan dari empirisme Inggris, namun empirismenya bukan merupakan
upaya untuk menyusun kenyataan berdasarkan atas fakta – fakta lepas sebagai
hasil pengamatan. Tetapi, kebenaran merupakan suatu proses, suatu ide dapat
menjadi benar apabila didukung oleh akibat – akibat atau hasil dari ide
tersebut. Oleh karena itu, kebenaran baru menjadi sesuatu yang real setelah
melalui verifikasi praktis.
VITALISME
Vitalisme berpandangan bahwa kegiatan
organisme hidup digerakkan oleh daya atau prinsip vital yang berbeda dengan
daya-daya fisik. Aliran ini timbul sebagai reaksi terhadap perkembangan ilmu
teknologi serta industrialisme, di mana segala sesuatu dapat dianalisa secara
matematis.
Henri Bergson
Tokoh terpenting dalam vitalisme
adalah Henri Bergson (1859-1941). Ia adalah salah satu filsuf yang paling
terkenal dan berpengaruh di Perancis pada akhir abad 19 – awal abad 20.
Meskipun ketenaran secara internasional cukup tinggi selama masa hidupnya, tetapi
setelah Perang Dunia kedua pengaruhnya mengalami penurunan. Para pemikir
Perancis, seperti Merleau-Ponty, Sartre, dan Levinas secara eksplisit mengakui
pengaruhnya terhadap pemikiran mereka. Mereka pada umumnya sepakat bahwa Gilles
Deleuze (1966) Bergsonism, menandai kebangkitan secara luas serta meningkatnya
minat dalam karya Bergson. Deleuze menyadari bahwa kontribusi terbesar Bergson
bagi pemikiran filsafat adalah konsep keanekaragaman. Filsafat Bergson
merupakan dualistik: dunia mengandung dua kecenderungan yang berlawanan: gaya
hidup (Elan vital) dan perlawanan dari dunia materi terhadap gaya. Manusia
dapat mengetahui masalah dengan kepandaiannya. Mereka merumuskan doktrin ilmu
pengetahuan dan melihat hal-hal yang ditetapkan sebagai unit terpisah di dalam
ruang. Hal yang berlawanan dengan kepandaian adalah intuisi, yang berasal dari
naluri yang lebih rendah. Intuisi memberi kita isyarat dari gaya hidup yang
melingkupi semua hal. Intuisi merasakan realitas waktu: bahwa durasi diarahkan
dalam hal hidup dan tidak dapat dibagi atau diukur. Durasi ini ditunjukkan oleh
fenomena memori.
FENOMENOLOGI
Fenomenologi berasal dari kata phenomenon
yang berarti gejala atau apa yang tampak. Jadi, fenomenologi adalah ilmu yang
mempelajari apa yang tampak atau apa yang menampakkan diri. Fenomenologi
dirintis oleh Edmund Husserl .
Edmund Husserl (1859-1938) adalah
pendiri aliran fenomenologi yang telah mempengaruhi pemikiran filsafat abad 20
secara mendalam. Baginya, fenomena adalah realitas sendiri yang tampak, tidak ada
selubung atau tirai yang memisahkan subjek dengan realitas, realitas sendiri
yang tampak bagi subjek. Husserl mengatakan bahwa apa yang dapat kita amati
hanyalah fenomena bukan sumber dari gejala itu sendiri dan dari apa yang kita
amati. Terdapat beberapa hal yang membuatnya tidak murni sehingga perlu diakan
reduksi. Langkah – langkah yang harus dilakukan adalah melakukan reduksi
fenomenologi dan reduksi Eiditis.
Pada reduksi tingkat pertama, ada
tiga hal yang perlu dilakukan :
- Membebaskan diri dari unsur subjektif
- Membebaskan diri dari kungkungan teori-teori, dan hipotesis-hipotesis
- Membebaskan diri dari doktrin-doktrin tradisional
Setelah mengalami reduksi
Fenomenologi, fenomena yang kita amati telah menjdai fenomena yang murni. Akan
tetapi, belum mencapai hal yang mendasar atau makna yang sebenarnya. Oleh
karena itu, dilakukanlah reduksi kedua, yaitu reduksi Eiditis. Melalui reduksi
kedua, fenomena yang kita amati mampu mencapai inti atau
esensinya.
Pandangan Husserl mengenai fenomena ini, ia telah mengadakan semacam revolusi dalam filsafat barat. Sejak masa Descrates, kesadaran selalu diartikan sebagai kesadaran yang tertutup, artinya kesadaran mengenal diri sendiri merupakan satu – satunya jalan untuk mengenal realitas. Namun, Husserl berpendapat bahwa kesadaran terarah kepada realitas, sama artinya dengan realitas menampakan diri sendiri.
Pandangan Husserl mengenai fenomena ini, ia telah mengadakan semacam revolusi dalam filsafat barat. Sejak masa Descrates, kesadaran selalu diartikan sebagai kesadaran yang tertutup, artinya kesadaran mengenal diri sendiri merupakan satu – satunya jalan untuk mengenal realitas. Namun, Husserl berpendapat bahwa kesadaran terarah kepada realitas, sama artinya dengan realitas menampakan diri sendiri.
EKSISTENSIALISME
Eksistensialisme adalah aliran
filsafat yang memandang segala gejala dengan berpangkal kepada eksistensi. Sebenarnya,
istilah eksistensialisme tidak menunjukan suatu sistem filsafat secara khusus.
Eksistensi adalah cara berada di dunia. Benda mati dan hewan tidak menyadari
keberadaannya di dunia ini. Akan tetapi manusia sadar hal tersebut. Itulah
sebabnya, segala sesuatu mempunyai arti sejauh masih berkaitan dengan manusia.
Dengan kata lain, manusia memberikan arti kepada segala hal.
Ada beberapa hal yang dapat
mengidentifikasikan ciri dari aliran eksistensialisme ini :
- Eksistensialisme adalah pemberontakan dan protes terhadap rasionalisme dan masyarakat modern, khususnya terhadap idealisme Hegel.
- Eksistensialisme adalah suatu proses atas nama individualis terhadap konsep-konsep, filsafat akademis yang jauh dari kehidupan konkrit.
- Eksistensialisme juga merupakan pemberontakan terhadap alam yang impersonal (tanpa kepribadian) dari zaman industri modern dan teknologi, serta gerakan massa.
- Eksistensialisme merupakan protes terhadap gerakan-gerakan totaliter, baik gerakan fasis, komunis, yang cenderung menghancurkan atau menenggelamkan perorangan di dalam kolektif atau massa.
- Eksistensialisme menekankan situasi manusia dan prospek (harapan) manusia di dunia.
- Eksistensialisme menekankan keunikan dan kedudukan pertama eksistensi, pengalaman kesadaran yang dalam dan langsung.
Filsafat ini bertitik tolak
kepada manusia konkret, manusia yang bereksistensi. Dalam kaitan dengan ini
mereka berepndapat bahwa pada manusia, eksistensi mendahului esensi.
Tokoh yang penting dalam filsafat
eksistensialisme adalah Martin Heidegger dan Jean-Paul Sartre.
Martin Heidegger (1883-1976)
Martin Heidegger adalah salah
satu filsuf yang paling asli dan penting pada abad ke-20, tetapi ia juga yang
paling kontroversial. Pemikirannya telah memberikan sumbangan untuk beberapa
bidang yang berbeda, seperti fenomenologi (Merleau-Ponty), eksistensialisme
(Sartre, Ortega y Gasset), hermeneutika (Gadamer, Ricoeur), teori politik
(Arendt, Marcuse), psikologi (Bos, Binswanger, Rollo May), teologi (Bultmann,
Rahner, Tillich), dan postmodernisme (Derrida). Perhatian utama dari seorang
Heidegger adalah ontologi. Dalam karyanya, “Being dan Time”, ia mencoba untuk
mengakses being (Sein) dengan melalui analisis fenomenologis tentang eksistensi
manusia (Dasein) yang berkenaan ke karakter duniawi dan sejarah manusia. Dalam
karya-karyanya berikutnya, Heidegger menekankan nihilisme masyarakat teknologi
modern, dan berusaha untuk memenangkan tradisi filsafat Barat kembali ke
pertanyaan yang ada. Ia meletakkan penekanan pada bahasa sebagai jalan untuk
membuka pertanyaan tersebut. Tulisannya yang sangat sulit. Namun, Being and
Time tetap masih yang paling berpengaruh.
John-Paul Sartre (1905-1980)
John-Paul Sartre adalah seorang
atheis dan satu – satunya filsuf kontemporer yang menempatkan kebebasan pada
titik yang sangat ekstrim. Ia berpendapat bahwa manusia itu bebas atau sama
sekali tidak bebas. Tentang kebebasan, Sartre mengatakan. ”Manusia bebas.
Manusia adalah kebebasan.” Ia berpendapat bahwa kebabasan bukan merupakan ciri
tetapi manusia itu sendiri.
Konsep kebebasan ini membawa
Sartre kepada penolakan akan Allah. Kalau ada Allah, maka Allah sudah
mengetahui esensi dari manusia, manusia tidak lagi bebas. Manusia akan
melakukan apa yang sudah ditentukan oleh Allah. Tetapi, hal tersebut tidak
mungking karena pada manusia, eksistensi mendahului esensi. Oleh karena itu, ia
berpendapat bahwa tidak ada Allah.
Dalam bukunya yang berjudul, “Existentialism
and humanism”, Sartre memberikan tanggapan kepada orang – orang yang
mengatakan eksistensialisme adalah atheism bahwa eksistensialisme sama
sekali bukan atheisme yang menolak adanya Allah. Namun, seandainya Allah ada,
hal itu sama sekali tidak mengubah apa – apa.
FILSAFAT ANALITIS
Bertrand Russell
Filsafat analitis atau filsafat
bahasa merupakan reaksi terhadap idealisme, khususnya Neohegelianisme. Para
penganutnya menyibukkan diri dengan menganalisa bahasa dan konsep-konsep.
Aliran ini muncul di Inggris dan Amerika Serikat sekitar tahun 1950. T okoh
penting dalam filsafat ini adalah Bertrand Russell, Ludwig Wittgenstein
(1889-1951), Gilbert Ryle, dan John Langshaw Austin.
STRUKTURALISME
Strukturialisme muncul di Prancis
pada tahun 1960, dan dikenal pula dalam linguistik, psikiatri, dan sosiologi.
Strukturalisme pada dasarnya menegaskan bahwa masyarakat dan kebudayaan
memiliki struktur yang sama dan tetap. Berbeda dengan filsafat eksistensialisme
yang menekankan pada peranan individu, strukturialisme memandang manusia
“terkungkung” dengan berbagai struktur di sekelilingnya. Maka kaum strukturalis
menyibukkan diri dengan struktur – struktur tersebut.
Secara garis besar ada dua
pengertian pokok yang sangat erat kaitannya dengan strukturalisme sebagai
aliran filsafat.
- Strukturalisme adalah metode atau metodologi yang digunakan untuk mempelajari ilmu-ilmu kemanusiaan dengan bertitik tolak dari prinsip-prinsip linguistik.
- Strukturalisme merupakan aliran filsafat yang hendak memahami masalah yang muncul dalam sejarah filsafat. Di sini metodologi struktural dipakai untuk membahas tentang manusia, sejarah, kebudayan dan alam, yaitu dengan membuka secara sistematik struktur-struktur kekerabatan dan struktur-struktur yang lebih luas dalam kesusasteraan dan dalam pola-pola psikologik tak sadar yang menggerakkan tindakan manusia.
Tokoh – tokoh yang memiliki
peranan penting dalam filsafat strukturialisme adalah Levi Strauss, Jacques
Lacan, dan Michel Foucault.
Claude Levi Strauss
Dalam karya klasik tentang kaitan
antara kekerabatan dan pertukaran, “The Elementary Structures of Kinship”,
tahun 1949, memperkenalkan dua aspek penting antropologi Levi Strauss. Yang
pertama adalah prinsip yang mengatakan bahwa kehidupan social dan cultural
tidak bisa dijelaskan secara unik oleh satu versi fungsionalisme. Aspek penting
lain dalam pendekatan Strauss adalah lingkup. Bila banyak peneliti social
membatasi penafsiran tentang kehidupan sosial pada masyarakat tententu yang
mereka teliti, Levi Strauss menggunakan pendekatan universalis. Ia berpendapat bahwa
setiap masyarakat atau kultur menampilkan ciri – ciri yang juga banyak terdapat
pada kultur lain karena ini yakin bahwa yang membentuk manusia adalah dimensi
kultural, bukan alam. Struktur simbolik kekerabatan, bahasa, dan pertukaran
barang menjadi kunci mengenai pemahaman kehidupan sosial, bukan biologi.
Bagi Strauss, “struktur” itu
tidak identik dengan struktur empiris suatu masyarakat tertentu, struktur itu
tidak ada dalam realitas yang tampak. Dari ini, terdapat kemenduaan Strauss
antara jenis strukturalisme yang melihat struktur sebagai suatu model abstrak
yang dihasilkan dari analisis terhadap suatu fenomena dengan pengertian
struktur sebagai yang bersifat terner, yaitu yang secara inheren mengandung
sifat dinamis.
Jacques Lacan
Lacan membaca ulang karya Freud
untuk meninjau ulang teori tentang subjektivitas dasn seksualitas dan
menghidupkan kembali sekumpulan konsep. Kemudian Lacan mengemukakan
pandangannya bahwa yang paling mneghambat pengetahuan tentang ciri revolusioner
dan subversif. Karya – karya Freud adalah pandangan bahwa ego merupakan hal
yang terpenting untuk memahami perilaku manusia.
Dengan penekanan strukturalis
pada bahasa sebagai suatu sistem perbedaan tanpa pengertian positif, Lacan
menonjolkan pentingnya bahasa dalam karya Freud. Bahasa juga memegang peranan
penting dalam suatu wawancara psikoanalitis. Akan tetapi, bahasa bukan hanya
pembawa informasi dan pikiran; bukan hanya medium komunikasi. Lacan berpendapat
bahwa faktor yang membuat komunikasi cacat itu juga penting. Kesalahpahaman,
kekacauan, resonansi, dan berbagai macam kekacauan inilah yang memungkinkan
Lacan mengungkapkan aforismenya yang terkenal : “Kesadaran itu terstruktur
seperti bahasa.” Oleh karena itu, ketidaksadaran inilah mengganggu komunikasi,
bukan secara kebetulan melainkan mengikuti suatu keteraturan struktural.
Michel Foucault (1926-1984)
Dalam resume pertamanya yang
berjudul, “ The Will to Truth” yang membahas praktek – praktek diskurtif, ia
mengatakan :
Kelompok – kelompok yang teratur
sekarang tidak berkesesuaian dengan karya-karya individu. Meskipun muncul dan
untuk pertama kali menjadi jelas dalam salah satu dari mereka, ini berkembang
cukup luas di luar mereka dan sering menyatukan beberapa kelompok. Akan tetapi,
mereka tidak selalu bersesuaian dengan yang biasa kita sebut ilmu atau disiplin
meskipun untuk sementara memiliki perbatasan yang sama (Foucault, 1970-1982:
10).
Penjelasan ini menggambarkan ciri
inovatif dan individualis dari karyanya. Oleh sebab itu, ia mengarahkan bahwa
kita tidak dapat mereduksi praktek – praktek deskursif menjadi disiplin
akademik. Akan tetapi, praktek diskurtif adalah sebuah keteraturan yang muncul
dalam fakta artikulasi itu sendiri. Keteraturan suatu diskursus itu bersifat
tidak sadar.
SEMIOTIKA
Semiotika adalah teori tentang
tanda dan penandaan. Seorang ahli semiotika seperti Barthes dalam awal
pemikirannya melihat kehidupan sosial dan kultural dalam kerangka penandaan.
Melalui pendekatan semiotika yang didasarkan atas kerangka linguistik
Saussurean, kehidupan sosial menjadi pertarungan demi prestige dan status; atau
bisa juga ia menjadi tanda pertarungan ini. Semiotika juga mempelajari
bagaimana tanda melakukan penandaan.
Roland Barthes
Barthes adalah seorang ahli
semiotika, seorang yang melihat bahasa sebagai yang dimodelkan oleh teori
Saussure tentang tanda yang melandasi pemahaman structural kehidupan sosial dan
kultur. Karya – karya Barthes sangat beragam, berkisar dari teori semiotika,
esai kritik sastra, telaah psikobiografis serta karya–karya yang lebih bersidat
pribadi. Gaya bahasa personifikasi menjadi ciri khas dalam karyanya lebih
lanjut.
Ferdinand de Saussure
Saussurre adalah seorang bapak
strukturalisme dan linguistik. Hal pokok pada teorinya adalah prinsip yang
mengatakan bahwa bahasa adalah suatu sistem tanda, dan setiap tanda itu
tersusun dari dua bagian: penanda dan yang ditanda. Konsepnya mengenai tanda
menunjuk ke-otonomi relatif bahasa dalam kaitannya dengan realitas. Bahkan,
secara lebih mendasar Saussure mengungkapkan suatu hal yang bagi kebanyakan
orang modern menjadi prinsip yang paling berpengaruh terhadap teori
linguistiknya: hubungan penanda dengan yang ditanda adalah sembarang dana
berubah – ubah. Berdasarkan prinsip tersebut, bahasa tidak lagi dianggap muncul
dalam etimologi dan filologi, tetapi bias ditangkap dengan sangat baik melalui
cara bagaimana bahasa tersebut mengutarakan perubahan.
POSTMODERNISME
Postmodernisme, sangat popular
pada penghujung abad ke-20 dan merambah ke berbagai bidang dan disiplin
filsafat dan ilmu pengetahuan. Aliran ini muncul sebagai reaksi terhadap
modernisme dengan segala dampaknya. Modernisme dimulai oleh Rene
Descrates, dikokohkan oleh zaman pencerahan (Aufklaerung), dan kemudian
mengabdikan diri melalui dominasi sains dan kapitalisme. Dalam modernisme,
filsafat berpusat pada epistemologi yang bersandar pada gagasan tentang
subjektivitas dan objektivitas murni yang saling terpisah. Modernisme mempunyai
gambaran dunia sendiri yang ternyata membawa berbagai dampak buruk, yakni
objektifikasi alam secara berlebihan dan pengurasan semena – mena yang
berakibat kepada krisis ekologi, militerisme, kebangkitan kembali tribalisme,
dan manusia cenderung menjadi objek karena pandangan modern yang objektivistis
dan positivistis. Postmodernisme berupaya untuk mempertanyakan suatu
epistemologi modernis yang didasarkan atas pembedaan subjek dan objek secara
jelas. Selain itu, hal lain terkait dengan postmodernisme adalah adanya
ketidakpercayaan kepada metanarasi (Lyotard) – yang berarti tidak adanya penjelasan
global tentang perilaku yang bisa dipercaya dalam zaman rasionalitas yang
bermuatan tujuan. Selain itu teknologi dilihat sebagai yang menuju ke
penitikberatan pada reproduksi. Ciri terpenting dalam postmodernisme adalah
relativisme dan mengakui pluralitas. Menurut para postmodernis, tidak ada suatu
norma yang berlaku umum. Setiap bagian memiliki keunikan tersendiri sehingga
tidak dapat menerima pemaksaan penyeragaman. Tokoh yang dianggap memperkenalkan
Postmodernisme adalah Francois Lyotard, lewat bukunya, “The Postmodern
Condition: A Report on Knowledge.” Di sini pengertian masyarakat sebagai suatu
bentuk kesatuan sudah hilang kredibilitasnya. Masyarakat sebagai kesatuan sudah
tidak biasa dipercaya delam kaitannya dengan “ketidakyakinan terhadap metanarasi”.
Metanarasi semacam itu memberikan suatu Teleologi yang memberikan pengesahan
baik kepada ikatan sosial maupun peranan ilmu dan pengetahuan yang terkait
kepadanya. Dalam tataran yang lebih teknik, suatu ilmu dianggap modern apabila
ia berusaha memberikan pengesahan kepada aturan – aturannya sendiri kepada
suatu metanarasi, sebuah narasi yang berada di luar lingkungan kompetensinya. Postmodernisme
memperlihatkan dua buah sasaran, metanarasi yang cukup berpengaruh dan gagasan
yang mengatakan bahwa pengetahuan itu dipandang sebagai subjek manusia yang
berupaya menemukan kebebasan, mulai bersaing, dan lebih jauh lagi, tidak ada
bukti dasar yang dapat digunakan untuk menyelesaikan perdebatan ini.
DAFTAR PUSTAKA
Letche, John. 2001. 50 Filsuf
Kontemporer : Dari Strukturalisme sampai Postmodernitas. Yogyakarta : Kanisius.
Muntansyir, Rizal, dkk. 2004. Filsafat
Ilmu. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.







0 komentar:
Posting Komentar