A. Renaisans
Tidak mudah menentukan batas yang
jelas mengenai akhir zaman pertengahan dan awal yang pasti dari zaman modern.
Hal ini disebabkan perbedaan pandangan para ahli sejarah tentang peralihan
zaman pertengahan ke zaman modern. Sebagian ahli sejarah berpendapat bahwa
zaman pertengahan berakhir ketika Konstantinopel ditaklukkan oleh Turki Usmani
pada tahun 1453 M. Peristiwa tersebut dianggap sebagai akhir zaman pertengahan
dan titik awal zaman modern. Ada juga yang berpendapat bahwa penemuan
benua Amerika oleh Columbus pada tahun 1492 M., menandai awal zaman modern.
Para ahli yang lain cenderung menganggap era gerakan reformasi keagamaan yang
dimotori oleh Martin Luther pada tahun 1517 M., sebagai akhir zaman
pertengahan. Namun mayoritas ahli sejarah mengatakan bahwa akhir abad ke 14
sekaligus menjadi akhir zaman pertengahan yang ditandai oleh suatu gerakan yang
disebut renaissance pada abad ke 15 dan 16. Dengan demikian abad ke 17 menjadi
bagian awal dari zaman filsafat modern.
Renaisans berasal dari istilah
bahasa Prancis renaissance yang berarti kelahiran kembali (rebirth). Istilah
ini biasanya digunakan oleh para ahli sejarah untuk menunjuk berbagai periode
kebangkitan intelektual yang terjadi di Eropa, khususnya di Italia sepanjang
abad ke 15 dan ke 16. Istilah ini mula-mula digunakan oleh seorang ahli sejarah
terkenal yang bernama Michelet, kemudian dikembangkan oleh J. Burckhardt (1860)
untuk konsep sejarah yang menunjuk kepada periode yang bersifat individualisme,
kebangkitan kebudayaan antik, penemuan dunia dan manusia, sebagai periode yang
dilawankan dengan periode Abad Pertengahan.
Abad Pertengahan adalah abad
ketika alam pikiran dikungkung oleh Gereja. Dalam keadaan seperti itu kebebasan
pemikiran amat dibatasi, sehingga perkembangan sains sulit terjadi, demikian
pula filsafat tidak berkembang, bahkan dapat dikatakan bahwa manusia tidak
mampu menemukan dirinya sendiri. Oleh karena itu, orang mulai mencari
alternatif. Dalam perenungan mencari alternatif itulah orang teringat
pada suatu zaman ketika peradaban begitu bebas dan maju, pemikiran tidak
dikungkung, sehingga sains berkembang, yaitu zaman Yunani kuno. Pada zaman
Yunani kuno tersebut orang melihat kemajuan kemanusiaan telah terjadi. Kondisi
seperti itulah yang hendak dihidupkan kembali.
Pada pertengahan abad ke-14, di
Italia muncul gerakan pembaruan di bidang keagamaan dan kemasyarakatan yang
dipelopori oleh kaum humanis Italia. Tujuan utama gerakan ini adalah
merealisasikan kesempurnaan pandangan hidup Kristiani dengan mengaitkan
filsafat Yunani dengan ajaran agama Kristen. Gerakan ini berusaha meyakinkan
Gereja bahwa sifat pikiran-pikiran klasik itu tidak dapat binasa. Dengan
memanfaatkan kebudayaan dan bahasa klasik itu mereka berupaya menyatukan
kembali Gereja yang terpecah-pecah dalam banyak sekte.
Tidak dapat dinafikan bahwa pada
abad pertengahan orang telah mempelajari karya-karya para filosof Yunani dan
Latin, namun apa yang telah dilakukan oleh orang pada masa itu berbeda dengan
apa yang diinginkan dan dilakukan oleh kaum humanis. Para humanis bermaksud
meningkatkan perkembangan yang harmonis dari kecakapan serta berbagai keahlian
dan sifat-sifat alamiah manusia dengan mengupayakan adanya kepustakaan yang
baik dan mengikuti kultur klasik Yunani. Para humanis pada umumnya berpendapat
bahwa hal-hal yang alamiah pada diri manusia adalah modal yang cukup untuk
meraih pengetahuan dan menciptakan peradaban manusia. Tanpa wahyu, manusia
dapat menghasilkan karya budaya yang sebenarnya. Dengan demikian dapat
dikatakan bahwa humanisme telah memberi sumbangannya kepada renaisans untuk
menjadikan kebudayaan bersifat alamiah.
Zaman renaisans banyak memberikan
perhatian pada aspek realitas. Perhatian yang sebenarnya difokuskan pada
hal-hal yang bersifat kongkret dalam lingkup alam semesta, manusia, kehidupan
masyarakat dan sejarah. Pada masa itu pula terdapat upaya manusia untuk memberi
tempat kepada akal yang mandiri. Akal diberi kepercayaan dan porsi yang lebih
besar, karena ada suatu keyakinan bahwa akal pasti dapat menerangkan segala
macam persoalan yang diperlukan pemecahannya. Hal ini dibuktikan dengan perang
terbuka terhadap kepercayaan yang dogmatis dan terhadap orang-orang yang enggan
menggunakan akalnya. Asumsi yang digunakan adalah, semakin besar kekuasaan
akal, maka akan lahir dunia baru yang dihuni oleh manusia-manusia yang dapat
merasakan kepuasan atas dasar kepemimpinan akal yang sehat.
Pada zaman ini berbagai gerakan
bersatu untuk menentang pola pemikiran abad pertengahan yang dogmatis, sehingga
melahirkan suatu perubahan revolusioner dalam pemikiran manusia dan membentuk
suatu pola pemikiran baru dalam filsafat. Zaman renaisans terkenal dengan
era kelahiran kembali kebebasan manusia dalam berpikir seperti pada zaman
Yunani kuno. Manusia dikenal sebagai animal rationale, karena pada masa ini
pemikiran manusia mulai bebas dan berkembang. Manusia ingin mencapai kemajuan
atas hasil usaha sendiri, tidak didasarkan atas campur tangan Ilahi. Saat itu
manusia Barat mulia berpikir secara baru dan berangsur-angsur melepaskan diri
dari otoritas kekuasaan Gereja yang selama ini telah mengungkung kebebasan
dalam mengemukakan kebenaran filsafat dan ilmu pengetahuan.
Zaman ini juga sering disebut
sebagai Zaman Humanisme. Maksud ungkapan tersebut adalah manusia diangkat dari
Abad pertengahan. Pada abad tersebut manusia kurang dihargai kemanusiaannya.
Kebenaran diukur berdasarkan ukuran gereja, bukan menurut ukuran yang dibuat
oleh manusia sendiri. Humanisme menghendaki ukurannya haruslah manusia, karena
manusia mempunyai kemampuan berpikir. Bertolak dari sini, maka humanisme
menganggap manusia mampu mengatur dirinya sendiri dan mengatur dunia. Karena
semangat humanisme tersebut , akhirnya agama Kristen semakin ditinggalkan, sementara
pengetahuan rasional dan sains berkembang pesat terpisah dari agama dan
nilai-nilai spiritual
Renaisans tidak lahir secara
kebetulan, tetapi ada pra kondisi yang mengawali terjadinya kelahiran tersebut.
Menurut Mahmud Hamdi Zaqzuq, ada beberapa faktor penting yang mempengaruhi
kelahiran Renaisans, yaitu:
1. Implikasi yang sangat
signifikan yang ditimbulkan oleh gerakan keilmuan dan filsafat. Gerakan
tersebut lahir sebagai hasil dari penerjemahan ilmu-ilmu Islam ke dalam bahasa
latin selama dua abad, yaitu abad ke-13 dan 14. Bahkan sebelumnya telah terjadi
penerjemahan kitab-kitab Arab di bidang filsafat dan ilmu pengetahuan. Hal itu
dilakukan setelah Barat sadar bahwa Arab memiliki kunci-kunci khazanah turas
klasik Yunani.
Hasil dari penerjemahan
karya-karya Muslim berpengaruh terhadap kurikulum Eropa Barat secara
revolusioner. Terutama di bidang matematika, kedokteran, astronomi, filologi,
fisika, ilmu kimia, geografi, sejarah, musik, teologi, dan filsafat.
Transformasi tersebut menumbuhkan universitas-universitas Eropa abad keduabelas
dan ketigabelas.
Hal itu telah menstimulasi
perkembangan lebih lanjut teori dan praktik kedokteran, memodifikasi
doktrin-doktrin teologi, memprakarsai dunia baru dalam matematika, menghasilkan
kontroversi baru dalam teologi dan filsafat.
2. Pasca penaklukan
Konstantinopel oleh Turki Usmani, terjadi migrasi para pendeta dan sarjana ke
Italia dan negara-negara Eropa lainnya. Para sarjana tersebut menjadi
pionir-pionir bagi pengembangan ilmu di Eropa. Mereka secara bahu-membahu
menghidupkan turas klasik Yunani di Florensia, dengan membawa teks-teks dan
manuskrip-manuskrip yang belum dikenal sebelumnya.
3. Pendirian berbagai lembaga
ilmiah yang mengajarkan beragam ilmu, seperti berdirinya Akademi Florensia dan
College de France di Paris.
Dalam universitas-universitas abad keduabelas dan abad ketigabelas, ilmu
pengetahuan telah didasarkan hampir sepenuhnya pad tulisan-tulisan dari para
penulis Muslim atau Yunani, sebagaimana diterjemahkan dari sumber-sumber bahasa
Arab dan Yunani. Ilmu pengetahuan Muslim Aristotelian tetap merupakan inti dari
kurikulum Universitas Paris hingga abad keenambelas. Tidak sampai
pertengahan abad keenambelas dan datangnya Copernicus dalam astronomi,
Paracelsus dalam ilmu kedokteran dan Vesalius dalam anatomi, ilmu pengetahuan
Muslim-Helenistik telah membuka jalan kepada konsep-konsep baru tentang manusia
dan dunianya, sehingga menimbulkan keruntuhan periode abad pertengahan
Selain itu, ada beberapa faktor
yang dikemukakan Slamet Santoso seperti yang dikutip Rizal Mustansyir, yaitu:
Hubungan antara kerajaan Islam di
Semenanjung Iberia dengan Prancis membuat para pendeta mendapat kesempatan
belajar di Spanyol kemudian mereka kembali ke Prancis untuk menyebarkan
ilmu pengetahuan yang mereka peroleh di lembaga-lembaga pendidikan di Prancis.
Perang Salib (1100-1300 M) yang
terulang enam kali, tidak hanya menjadi ajang peperangan fisik, namun juga
menjadikan para tentara atau serdadu Eropa yang berasal dari berbagai negara
itu menyadari kemajuan negara-negara Islam, sehingga mereka menyebarkan
pengalaman mereka itu sekembalinya di negara-negara masing-masing.
Pada zaman renaisans ada banyak
penemuan di bidang ilmu pengetahuan. Di antara tokoh-tokohnya adalah:
1. Nicolaus Copernicus
(1473-1543)
Ia dilahirkan di Torun, Polandia
dan belajar di Universitas Cracow. Walaupun ia tidak mengambil studi astronomi,
namun ia mempunyai koleksi buku-buku astronomi dan matematika. Ia sering
disebut sebagai Founder of Astronomy. Ia mengembangkan teori bahwa
matahari adalah pusat jagad raya dan bumi mempunyai dua macam gerak, yaitu:
perputaran sehari-hari pada porosnya dan perputaran tahunan mengitari matahari.
Teori itu disebut heliocentric menggeser teori Ptolemaic. Ini adalah
perkembangan besar, tetapi yang lebih penting adalah metode yang dipakai
Copernicus, yaitu metode mencakup penelitian terhadap benda-benda langit dan
kalkulasi matematik dari pergerakan benda-benda tersebut.
2. Galileo Galilei (1564-1642)
Galileo Galilei adalah salah
seorang penemu terbesar di bidang ilmu pengetahuan. Ia menemukan bahwa sebuah
peluru yang ditembakkan membuat suatu gerak parabola, bukan gerak horizontal
yang kemudian berubah menjadi gerak vertikal. Ia menerima pandangan bahwa
matahari adalah pusat jagad raya. Dengan teleskopnya, ia mengamati jagad raya
dan menemukan bahwa bintang Bimasakti terdiri dari bintang-bintang yang banyak
sekali jumlahnya dan masing-masing berdiri sendiri. Selain itu, ia juga
berhasil mengamati bentuk Venus dan menemukan beberapa satelit Jupiter.
3. Francis Bacon (1561-1626)
Francis Bacon adalah seorang
filosof dan politikus Inggris. Ia belajar di Cambridge University dan kemudian
menduduki jabatan penting di pemerintahan serta pernah terpilih menjadi anggota
parlemen. Ia adalah pendukung penggunaan scientific methods, ia berpendapat
bahwa pengakuan tentang pengetahuan pada zaman dahulu kebanyakan salah, tetapi
ia percaya bahwa orang dapat mengungkapkan kebenaran dengan inductive method,
tetapi lebih dahulu harus membersihkan fikiran dari prasangka yang ia namakan idols
(arca).
Bacon telah memberi kita pernyataan yang klasik tentang kesalahan-kesalahan
berpikir dalam Idols of the Mind.
Pertama, Arca-arca Suku (Idols of
the Tribes). Kita condong menerima bukti-bukti dan kejadian-kejadian yang
menguntungkan pihak atau kelompok kita (suku atau bangsa). Kedua, Arca-arca Gua
(Idols of Cave). Kita cenderung memandang diri kita sebagai pusat dunia dan
menekankan pendapat kita yang terbatas. Ketiga, Arca-arca Pasar (Idols of the
Market) yang menjadikan kita terpengaruh oleh kata-kata atau nama-nama yang
kita kenal dalam percakapan kita sehari-hari. Kita disesatkan oleh kata-kata
yang diucapkan secara emosional. Sebagai contoh, dalam Masyarakat (Amerika)
kata-kata komunis, radikal dan teroris. Keempat, Arca-arca Panggung (Idols of
Theatre) yang timbul karena sikap kita berpegang pada partai, kepercayaan atau
keyakinan. Tingkah laku, cara-cara dan aliran-aliran pikiran adalah seperti
panggung, dalam arti bahwa mereka membawa kita ke dunia khayal. Akhirnya arca
panggung membawa kita kepada kesimpulan yang salah dasar.
Bacon menolak silogisme, sebab
dipandang tanpa arti dalam ilmu pengetahuan karena tidak mengajarkan
kebenaran-kebenaran yang baru. Ia juga menekankan bahwa ilmu pengetahuan hanya
dapat dihasilkan melalui pengamatan, eksperimen dan harus berdasarkan data-data
yang tersusun. Dengan demikian Bacon dapat dipandang sebagai peletak
dasar-dasar metode induksi modern dan pelopor dalam usaha sitematisasi secara
logis prosedur ilmiah.
Dalam bidang filsafat, zaman
renaisans tidak menghasilkan karya penting bila dibandingkan dengan bidang seni
dan sains. Filsafat berkembang bukan pada zaman itu, melainkan kelak pada zaman
sesudahnya yaitu zaman modern. Meskipun terdapat berbagai perubahan mendasar,
namun abad-abad renaisans tidaklah secara langsung menjadi lahan subur bagi
pertumbuhan filsafat. Baru pada abad ke-17 dengan dorongan daya hidup yang kuat
sejak era renaisans, filsafat mendapatkan pengungkapannya yang lebih jelas.
Jadi, zaman modern filsafat didahului oleh zaman renaisans. Ciri-ciri filsafat
renaisans dapat ditemukan pada filsafat modern. Ciri tersebut antara lain,
menghidupkan kembali rasionalisme Yunani, individualisme, humanisme, lepas dari
pengaruh agama dan lain-lain.
Pada abad ke-17 pemikiran
renaisans mencapai kesempurnaannya pada diri beberapa tokoh besar. Pada abad
ini tercapai kedewasaan pemikiran, sehingga ada kesatuan yang memberi semangat
yang diperlukan pada abad-abad berikutnya. Pada masa ini, yang dipandang
sebagai sumber pengetahuan hanyalah apa yang secara alamiah dapat dipakai
manusia, yaitu akal (rasio) dan pengalaman (empiri). Sebagai akibat dari
kecenderungan berbeda dalam memberi penekanan kepada salah satu dari keduanya,
maka pada abad ini lahir dua aliran yang saling bertentangan, yaitu
rasionalisme yang memberi penekanan pada rasio dan empirisme yang memberi
penekanan pada empiris
B. Rasionalisme
Usaha manusia untuk memberi
kemandirian kepada akal sebagaimana yang telah dirintis oleh para pemikir
renaisans, masih berlanjut terus sampai abad ke-17. Abad ke-17 adalah era
dimulainya pemikiran-pemikiran kefilsafatan dalam artian yang sebenarnya.
Semakin lama manusia semakin menaruh kepercayaan yang besar terhadap kemampuan
akal, bahkan diyakini bahwa dengan kemampuan akal segala macam persoalan dapat
dijelaskan, semua permasalahan dapat dipahami dan dipecahkan termasuk seluruh
masalah kemanusiaan.
Keyakinan yang berlebihan
terhadap kemampuan akal telah berimplikasi kepada perang terhadap mereka yang
malas mempergunakan akalnya, terhadap kepercayaan yang bersifat dogmatis
seperti yang terjadi pada abad pertengahan, terhadap norma-norma yang bersifat
tradisi dan terhadap apa saja yang tidak masuk akal termasuk
keyakinan-keyakinan dan serta semua anggapan yang tidak rasional.
Dengan kekuasaan akal tersebut,
orang berharap akan lahir suatu dunia baru yang lebih sempurna, dipimpin dan
dikendalikan oleh akal sehat manusia. Kepercayaan terhadap akal ini sangat
jelas terlihat dalam bidang filsafat, yaitu dalam bentuk suatu keinginan untuk
menyusun secara a priori suatu sistem keputusan akal yang luas dan tingkat
tinggi. Corak berpikir yang sangat mendewakan kemampuan akal dalam filsafat
dikenal dengan nama aliran rasionalisme.
Pada zaman modern filsafat, tokoh
pertama rasionalisme adalah Rene Descartes (1595-1650). Tokoh rasionalisme
lainnya adalah Baruch Spinoza (1632-1677) dan Gottfried Wilhelm Leibniz
(1646-1716). Descartes dianggap sebagai Bapak Filsafat Modern. Menurut Bertrand
Russel, kata “Bapak” pantas diberikan kepada Descartes karena dialah orang
pertama pada zaman modern itu yang membangun filsafat berdasarkan atas
keyakinan diri sendiri yang dihasilkan oleh pengetahuan akliah. Dia pula orang
pertama di akhir abad pertengahan yang menyusun argumentasi yang kuat dan tegas
yang menyimpulkan bahwa dasar filsafat haruslah akal, bukan perasaan, bukan
iman, bukan ayat suci dan bukan yang lainnya. Hal ini disebabkan perasaan tidak
puas terhadap perkembangan filsafat yang amat lamban dan banyak memakan korban.
Ia melihat tokoh-tokoh Gereja yang mengatasnamakan agama telah menyebabkan
lambannya perkembangan itu. Ia ingin filsafat dilepaskan dari dominasi agama
Kristen, selanjutnya kembali kepada semangat filsafat Yunani, yaitu filsafat
yang berbasis pada akal.
Descartes sangat menyadari bahwa
tidak mudah meyakinkan tokoh-tokoh Gereja bahwa dasar filsafat haruslah rasio.
Tokoh-tokoh Gereja waktu itu masih berpegang teguh pada keyakinan bahwa dasar
filsafat haruslah iman sebagaimana tersirat dalam jargon credo ut intelligam
yang dipopulerkan oleh Anselmus. Untuk meyakinkan orang bahwa dasar filsafat
haruslah akal, ia menyusun argumentasinya dalam sebuah metode yang sering
disebut cogito Descartes, atau metode cogito saja. Metode tersebut dikenal juga
dengan metode keraguan Descartes (Cartesian Doubt).
Lebih jelas uraian Descartes
tentang bagaimana memperoleh hasil yang sahih dari metode yang ia canangkan
dapat dijumpai dalam bagian kedua dari karyanya Anaximenes Discourse on Methode
yang menjelaskan perlunya memperhatikan empat hal berikut ini:
1. Tidak menerima sesuatu apa pun
sebagai kebenaran, kecuali bila saya melihat bahwa hal itu sungguh-sungguh
jelas dan tegas, sehingga tidak ada suatu keraguan apa pun yang mampu
merobohkannya.
2. Pecahkanlah setiap kesulitan atau
masalah itu sebanyak mungkin bagian, sehingga tidak ada suatu keraguan apa pun
yang mampu merobohkannya.
3. Bimbinglah pikiran dengan
teratur, dengan memulai dari hal yang sederhana dan mudah diketahui, kemudian
secara bertahap sampai pada yang paling sulit dan kompleks.
Dalam proses pencarian dan
penelaahan hal-hal sulit, selamanya harus dibuat perhitungan-perhitungan yang
sempurna serta pertimbangan-pertimbangan yang menyeluruh, sehingga kita menjadi
yakin bahwa tidak ada satu pun yang terabaikan atau ketinggalan dalam
penjelajahan itu.
Atas dasar aturan-aturan itulah
Descartes mengembangkan pikiran filsafatnya. Ia meragukan segala sesuatu yang
dapat diragukan. Pertama-tama ia mulai meragukan hal-hal yang berkaitan dengan
panca indera. Ia meragukan adanya badannya sendiri. Keraguan itu dimungkinkan
karena pada pengalaman mimpi, halusinasi, ilusi dan pengalaman tentang roh
halus, ada yang sebenarnya itu tidak jelas. Pada keempat keadaan itu seseorang
dapat mengalami sesuatu seolah-olah dalam keadaan yang sesungguhnya. Di dalam
mimpi, seolah-olah seseorang mengalami sesuatu yang sungguh-sungguh terjadi,
persis seperti tidak mimpi. Begitu pula pada pengalaman halusinasi, ilusi dan
hal gaib. Tidak ada batas yang tegas antara mimpi dan jaga. Oleh karena itu,
Descartes berkata, ”Aku dapat meragukan bahwa aku di sini sedang siap untuk
pergi ke luar; ya, aku dapat meragukan itu karena kadang-kadang aku bermimpi
persis sepeti itu, padahal aku ada di tempat tidur sedang bermimpi”. Jadi,
siapa yang dapat menjamin bahwa yang sedang kita alami sekarang adalah kejadian
yang sebenarnya dan bukan mimpi?
Pada langkah pertama ini
Descartes berhasil meragukan semua benda yang dapat diindera. Sekarang , apa
yang dapat dipercaya dan yang sungguh-sungguh ada? Menurut Descartes, dalam
keempat keadaan itu (mimpi, halusinasi, ilusi dan hal gaib), juga dalam
jaga, ada sesuatu yang selalu muncul. Ada yang selalu muncul baik dalam jaga
maupun dalam mimpi, yaitu gerak, jumlah dan besaran (volume). Ketiga hal
tersebut adalah matematika. Untuk membuktikan ketiga hal ini benar-benar ada,
maka Descartes pun meragukannya. Ia mengatakan bahwa matematika bisa salah.
Saya sering salah menjumlah angka, salah mengukur besaran, demikian pula pada
gerak. Jadi, ilmu pasti pun masih dapat saya ragukan, meskipun matematika lebih
pasti dari benda. Kalau begitu, apa yang pasti itu dan dapat kujadikan dasar
bagi filsafatku? Aku ingin yang pasti, yang distinct.
Sampailah ia sekarang kepada
langkah ketiga dalam metode cogito. Satu-satunya hal yang tak dapat ia ragukan
adalah eksistensi dirinya sendiri yang sedang ragu-ragu. Mengenai satu hal ini
tidak ada satu manusia pun yang dapat menipunya termasuk setan licik dan botak
sekali pun. Bahkan jika kemudian ia disesatkan dalam berpikir bahwa dia ada,
maka penyesatan itu pun bagi Descartes merupakan bukti bahwa ada seseorang yang
sedang disesatkan. Ini bukan khayalan, melainkan kenyataan. Batu karang
kepastian Descartes ini diekspresikan dalam bahasa latin cogito ergo sum (saya
berpikir, karena itu saya ada).
Dalam usaha untuk menjelaskan
mengapa kebenaran yang satu (saya berpikir, maka saya ada) adalah benar,
Descartes berkesimpulan bahwa dia merasa diyakinkan oleh kejelasan dan
ketegasan dari ide tersebut. Di atas dasar ini dia menalar bahwa semua
kebenaran dapat kita kenal karena kejelasan dan ketegasan yang timbul dalam
pikiran kita:” Apa pun yang dapat digambarkan secara jelas dan tegas adalah
benar.
Dengan demikian, falsafah
rasional mempercayai bahwa pengetahuan yang dapat diandalkan bukanlah turunan
dari dunia pengalaman melainkan dari dunia pikiran. Descartes mengakui bahwa
pengetahuan dapat dihasilkan oleh indera, tetapi karena dia mengakui bahwa
indera itu bisa menyesatkan seperti dalam mimpi atau khayalan, maka dia
terpaksa mengambil kesimpulan bahwa data keinderaan tidak dapat diandalkan.
Cogito ergo sum dianggap sebagai
fase yang paling penting dalam filsafat Descartes yang disebut sebagai
kebenaran filsafat yang pertama (primum philosophium). Aku sebagai sesuatu yang
berpikir adalah suatu substansi yang seluruh tabiat dan hakikatnya terdiri dari
pikiran dan keberadaannya tidak butuh kepada suatu tempat atau sesuatu yang
bersifat bendawi.
Untuk menguatkan gagasannya, ia
mengemukakan ide-ide bawaan (innate ideas). Descartes berpendapat bahwa dalam
dirinya terdapat tiga ide bawaan yang telah ada pada dirinya sejak lahir, yaitu
pemikiran, Tuhan dan keluasan. Argumen tentang ide bawaan tersebut adalah
ketika saya memahami diri saya sebagai makhluk yang berpikir, maka harus
diterima bahwa pemikiran merupakan hakikat saya. Ketika saya mempunyai ide
sempurna, maka pasti ada penyebab sempurna bagi ide tersebut, karena akibat
tidak mungkin melebihi penyebabnya. Wujud yang sempurna itu tidak lain adalah
Tuhan. Adapun alasan tentang keluasan karena saya mengerti ada materi sebagai
keluasan, sebagaimana diketahui dan dipelajari dalam ilmu geometri.
Mengenai substansi, Descartes
menyimpulkan bahwa selain dari Tuhan ada dua substansi, yaitu jiwa yang
hakikatnya adalah pemikiran dan materi yang hakikatnya adalah keluasan. Tetapi,
karena Descartes telah menyangsikan adanya dunia di luar dirinya, maka ia
kesulitan membuktikan adanya dunia luar tersebut. Bagi Descartes, satu-satunya
alasan untuk menerima adanya dunia luar adalah bahwa Tuhan akan menipu saya
sekiranya Ia memberi ide keluasan. Namun tidak mungkin Tuhan sebagai wujud yang
sempurna akan menipu saya. Jadi, di luar saya benar-benar ada dunia material.
Adapun Spinoza beranggapan bahwa
hanya ada satu substansi, yaitu Tuhan. Jika Descartes membagi substansi menjadi
tiga, yaitu tubuh (bodies), jiwa (mind) dan Tuhan, maka Spinoza menyimpulkan
hanya ada satu substansi. Adapun bodies dan mind bukan substansi yang berdiri
sendiri, melainkan sifat dari satu substansi yang tak terbatas. Ketika ia
ditanya,”Bagaimana membedakan atribut bodies dan mind?” Spinoza memberi jawaban
mengejutkan: ”Anda hanyalah satu bagian dari substansi kosmik (universe)”. Jika
demikian, alam semesta juga adalah Tuhan. Bagi Spinoza, Tuhan dan alam semesta
adalah satu dan sama. Ya, Spinoza percaya kepada Tuhan, tetapi Tuhan yang
dimaksudkannya adalah alam semesta ini. Tuhan Spinoza itu tidak berkemauan,
tidak melakukan sesuatu, tak mempedulikan manusia dan tak terbatas (ultimate).
Inilah penjelasan logis dan dapat diketahui tentang Tuhan menurut Spinoza.
Sebagai penganut rasionalisme,
Spinoza dianggap sebagai orang yang tepat dalam memberikan gambaran tentang apa
yang dipikirkan oleh penganut rasionalisme. Ia berusaha menyusun sebuah sistem
filsafat yang menyerupai sistem ilmu ukur (geometri). Seperti halnya orang
Yunani, Spinoza mengatakan bahwa dalil-dalil ilmu ukur merupakan
kebenaran-kebenaran yang tidak perlu dibuktikan lagi. Spinoza meyakini bahwa
jika seseorang memahami makna yang dikandung oleh kata-kata yang dipergunakan
dalam ilmu ukur, maka ia pasti akan memahami makna yang terkandung dalam
pernyataan “sebuah garis lurus merupakan jarak terdekat di antara dua buah
titik”, maka kita harus mengakui kebenaran pernyataan tersebut. Kebenaran yang
menjadi aksioma.
Contoh ilmu ukur (geometri) yang
dikemukakan oleh Spinoza di atas adalah salah satu contoh favorit kaum
rasionalis. Mereka berdalih bahwa aksioma dasar geometri seperti, “sebuah garis
lurus merupakan jarak yang terdekat antara dua titik”, adalah idea yang jelas
dan tegas yang baru kemudian dapat diketahui oleh manusia. Dari aksioma dasar
itu dapat dideduksikan sebuah sistem yang terdiri dari subaksioma-subaksioma.
Hasilnya adalah sebuah jaringan pernyataan yang formal dan konsisten yang
secara logis tersusun dalam batas-batas yang telah digariskan oleh suatu
aksioma dasar yang sudah pasti.
C. Empirisme
Para pemikir di Inggris bergerak
ke arah yang berbeda dengan tema yang telah dirintis oleh Descartes. Mereka
lebih mengikuti Jejak Francis Bacon, yaitu aliran empirisme.
Empirisme adalah suatu doktrin filsafat yang menekankan peranan pengalaman
dalam memperoleh pengetahuan dan pengetahuan itu sendiri dan mengecilkan peran
akal. Istilah empirisme diambil dari bahasa yunani empeiria yang berarti
pengalaman. Sebagai suatu doktrin, empirisme adalah lawan rasionalisme. Akan
tetapi tidak berarti bahwa rasionalisme ditolak sama sekali. Dapat dikatakan
bahwa rasionalisme dipergunakan dalam kerangka empirisme, atau rasionalisme
dilihat dalam bingkai empirisme
Orang pertama pada abad ke-17
yang mengikuti aliran empirisme di Inggris adalah Thomas Hobbes (1588-1679).
Jika Bacon lebih berarti dalam bidang metode penelitian, maka Hobbes dalam
bidang doktrin atau ajaran. Hobbes telah menyusun suatu sistem yang lengkap
berdasar kepada empirisme secara konsekuen. Meskipun ia bertolak pada
dasar-dasar empiris, namun ia menerima juga metode yang dipakai dalam ilmu alam
yang bersifat matematis. Ia telah mempersatukan empirisme dengan rasionalisme
matematis. Ia mempersatukan empirisme dengan rasionalisme dalam bentuk suatu
filsafat materialistis yang konsekuen pada zaman modern.
Menurut Hobbes, filsafat adalah
suatu ilmu pengetahuan yang bersifat umum, sebab filsafat adalah suatu ilmu
pengetahuan tentang efek-efek atau akibat-akibat, atau tentang
penampakan-panampakan yang kita peroleh dengan merasionalisasikan pengetahuan
yang semula kita miliki dari sebab-sebabnya atau asalnya. Sasaran filsafat
adalah fakta-fakta yang diamati untuk mencari sebab-sebabnya. Adapun alatnya
adalah pengertian-pengertian yang diungkapkan dengan kata-kata yang
menggambarkan fakta-fakta itu. Di dalam pengamatan disajikan fakta-fakta yang
dikenal dalam bentuk pengertian-pengertian yang ada dalam kesadaran kita.
Sasaran ini dihasilkan dengan perantaraan pengertian-pengertian; ruang, waktu,
bilangan dan gerak yang diamati pada benda-benda yang bergerak. Menurut
Hobbes, tidak semua yang diamati pada benda-benda itu adalah nyata, tetapi yang
benar-benar nyata adalah gerak dari bagian-bagian kecil benda-benda itu. Segala
gejala pada benda yang menunjukkan sifat benda itu ternyata hanya perasaan yang
ada pada si pengamat saja. Segala yang ada ditentukan oleh sebab yang hukumnya
sesuai dengan hukum ilmu pasti dan ilmu alam. Dunia adalah keseluruhan sebab
akibat termasuk situasi kesadaran kita.
Sebagai penganut empirisme,
pengenalan atau pengetahuan diperoleh melalui pengalaman. Pengalaman adalah
awal dari segala pengetahuan, juga awal pengetahuan tentang asas-asas yang
diperoleh dan diteguhkan oleh pengalaman. Segala pengetahuan diturunkan dari
pengalaman. Dengan demikian, hanya pengalamanlah yang memberi jaminan
kepastian.
Berbeda dengan kaum rasionalis,
Hobbes memandang bahwa pengenalan dengan akal hanyalah mempunyai fungsi mekanis
semata-mata. Ketika melakukan proses penjumlahan dan pengurangan misalnya,
pengalaman dan akal yang mewujudkannya. Yang dimaksud dengan pengalaman adalah
keseluruhan atau totalitas pengamatan yang disimpan dalam ingatan atau
digabungkan dengan suatu pengharapan akan masa depan, sesuai dengan apa yang
telah diamati pada masa lalu. Pengamatan inderawi terjadi karena gerak
benda-benda di luar kita menyebabkan adanya suatu gerak di dalam indera kita.
Gerak ini diteruskan ke otak kita kemudian ke jantung. Di dalam jantung timbul
reaksi, yaitu suatu gerak dalam jurusan yang sebaliknya. Pengamatan yang
sebenarnya terjadi pada awal gerak reaksi tadi.
Untuk mempertegas pandangannya,
Hobbes menyatakan bahwa tidak ada yang universal kecuali nama belaka.
Konsekuensinya ide dapat digambarkan melalui kata-kata. Dengan kata lain, tanpa
kata-kata ide tidak dapat digambarkan. Tanpa bahasa tidak ada kebenaran atau
kebohongan. Sebab, apa yang dikatakan benar atau tidak benar itu hanya sekedar sifat
saja dari kata-kata. Setiap benda diberi nama dan membuat ciri atau
identitas-identitas di dalam pikiran orang.
Selanjutnya tradisi empiris
diteruskan oleh John Locke (1632-1704) yang untuk pertama kali menerapkan
metode empiris kepada persoalan-persoalan tentang pengenalan atau pengetahuan.
Bagi Locke, yang terpenting adalah menguraikan cara manusia mengenal. Locke
berusaha menggabungkan teori-teori empirisme seperti yang diajarkan Bacon dan
Hobbes dengan ajaran rasionalisme Descartes. Usaha ini untuk memperkuat ajaran
empirismenya. Ia menentang teori rasionalisme mengenai idea-idea dan asas-asas
pertama yang dipandang sebagai bawaan manusia. Menurut dia, segala pengetahuan
datang dari pengalaman dan tidak lebih dari itu. Peran akal adalah pasif pada
waktu pengetahuan didapatkan. Oleh karena itu akal tidak melahirkan pengetahuan
dari dirinya sendiri.
Pada waktu manusia dilahirkan, akalnya merupakan sejenis buku catatan yang kosong (tabula rasa). Di dalam buku catatan itulah dicatat pengalaman-pangalaman inderawi. Seluruh pengetahuan kita diperoleh dengan jalan menggunakan serta membandingkan ide-ide yang diperoleh dari penginderaan serta refleksi yang pertama dan sederhana. Tapi pikiran, menurut Locke, bukanlah sesuatu yang pasif terhadap segala sesuatu yang datang dari luar. Beberapa aktifitas berlangsung dalam pikiran. Gagasan-gagasan yang datang dari indera tadi diolah dengan cara berpikir, bernalar, mempercayai, meragukan dan dengan demikian memunculkan apa yang dinamakannya dengan perenungan.
Pada waktu manusia dilahirkan, akalnya merupakan sejenis buku catatan yang kosong (tabula rasa). Di dalam buku catatan itulah dicatat pengalaman-pangalaman inderawi. Seluruh pengetahuan kita diperoleh dengan jalan menggunakan serta membandingkan ide-ide yang diperoleh dari penginderaan serta refleksi yang pertama dan sederhana. Tapi pikiran, menurut Locke, bukanlah sesuatu yang pasif terhadap segala sesuatu yang datang dari luar. Beberapa aktifitas berlangsung dalam pikiran. Gagasan-gagasan yang datang dari indera tadi diolah dengan cara berpikir, bernalar, mempercayai, meragukan dan dengan demikian memunculkan apa yang dinamakannya dengan perenungan.
Locke menekankan bahwa
satu-satunya yang dapat kita tangkap adalah penginderaan sederhana. Ketika kita
makan apel misalnya, kita tidak merasakan seluruh apel itu dalam satu
penginderaan saja. Sebenarnya, kita menerima serangkaian penginderaan
sederhana, yaitu apel itu berwarna hijau, rasanya segar, baunya segar dan
sebagainya. Setelah kita makan apel berkali-kali, kita akan berpikir bahwa kita
sedang makan apel. Pemikiran kita tentang apel inilah yang kemudian disebut
Locke sebagai gagasan yang rumit atau ia sebut dengan persepsi. Dengan demikian
kita dapat mengatakan bahwa semua bahan dari pengetahuan kita tentang dunia
didapatkan melalui penginderaan. Ini berarti bahwa semua pengetahuan kita betapapun rumitnya, dapat dilacak
kembali sampai kepada pengalaman-pengalaman inderawi yang pertama-tama yang
dapat diibaratkan seperti atom-atom yang menyusun objek-objek material. Apa
yang tidak dapat atau tidak perlu dilacak kembali seperti demikian itu bukanlah
pengetahuan atau setidak-tidaknya bukanlah pengetahuan mengenai hal-hal yang
faktual.
Di tangan empirisme Locke,
filsafat mengalami perubahan arah. Jika rasionalisme Descartes mengajarkan
bahwa pengetahuan yang paling berharga tidak berasal dari pengalaman, maka
menurut Locke, pengalamanlah yang menjadi dasar dari segala pengetahuan. Namun
demikian, empirisme dihadapkan pada sebuah persoalan yang sampai begitu jauh
belum bisa dipecahkan secara memuaskan oleh filsafat. Persoalannya adalah
menunjukkan bagaimana kita mempunyai pengetahuan tentang sesuatu selain diri
kita dan cara kerja pikiran itu sendiri.
DAFTAR PUSTAKA
Achmadi, Asmoro. Filsafat
Umum. Cet. V; Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2003.
Anees, Bambang Q- dan Radea Juli
A. Hambali. Filsafat Untuk Umum. Cet. I; Jakarta: Prenada Media, 2003.
Hadiwijono, Harun. Sari Sejarah
Filsafat Barat 2. Cet. IX; Yogyakarta: Kanisius, 1993.
Ravertz, Jerome R. The
Philosophy of Science. Diterjemahkan oleh Saut Pasaribu dengan judul Filsafat
Ilmu, Sejarah dan Ruang Lingkup Bahasan. Cet. I; Yogyakarta: Pustaka Pelajar,
2004.
Mustansyir, Rizal dan
Misnal Munir. Filsafat Ilmu. Cet. VII; Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2008.
Nakosteen, Mehdi. History of
Islamic Origins of Western Education A. D. 800-1350 with an Introduction to
Medieval Muslim Education. Diterjemahkan oleh Joko S. Kahhar dan Supriyanto
Abdullah dengan judul Kontribusi Islam atas dunia Intelektual Barat: Deskripsi
Analisis abad kemasan Islam. Cet. I; Surabaya: Risalah Gusti, 1996.
Suriasumantri, Jujun S. Ilmu
dalam perspektif. Cet. XVI; Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2003.
Tafsir, Ahmad. Filsafat Umum.
Cet. VI; Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 1998.
Titus, Harold H., et al. Living
Issues in philosophy. Diterjemahkan oleh H.M. Rasjidi dengan judul Persoalan-Persoalan
Filsafat. Cet. I; Jakarta: PT Bulan Bintang, 1984.
Zaqzu>q, Mah}mu>d H{amdiy.
Dira>sa>t fi> al-Falsafat al-H{adi>s\ah. Cet. II; Kairo: Da>r
al-T{iba>‘at al-Muh}ammadiyyah, 1988.







0 komentar:
Posting Komentar