![]() |
1. Kapitalisme yang Masih Muda
Karena kapitalisme di Indonesia
masih muda, produksi dan pemusatannya belumlah mencapai tingkat yang semestinya.
Kira-kira seperempat abad belakangan baru dimulai industrialisasi di Indonesia.
Baru pada waktu itulah dipergunakan mesin yang modern dalam
perusahaan-perusahaan gula, karet, teh, minyak, arang dan timah.
Industri Indonesia, terutama
industri pertanian, masih tetap terbatas di Jawa dan di beberapa tempat di
Sumatera. Tanah yang luas, yang biasanya sangat subur dan mengandung
barang-barang logam yang tak ternilai harganya, seperti Sumatera, Borneo,
Sulawesi dan pulau-pulau yang lain masih menunggu-nunggu tangan manusia.
Meskipun Pulau Jawa dalam hal perkebunan dan alat-alat angkutan sudah mencapai
tingkatan yang tinggi, tetapi umumnya pulau luar Jawa, kecuali Sumatera, masih
rimba raya.
Industri modern yang sebenarnya
tidak akan diadakan di Pulau Jawa. Ia akan tetap tinggal menjadi tempat
industri pertanian. Sebab logam-logam seperti besi, arang, minyak tanah, emas
dan lainnya, tidak atau hanya sedikit sekali didapat di sana. Sumateralah yang
menjadi tempat industri modern yang sebenarnya. Hal ini sekarang sebagian kecil
telah terbukti. Arang, minyak tanah, emas dan timah hasil Sumatera (kelak juga
besi) besar artinya, baik di kalangan nasional maupun internasional.
Inggris, negeri industri yang
tertua di dunia, pada pertengahan abad yang lalu mengadakan perubahan yang
tepat dalam perindustriannya. Negeri-negeri Eropa yang lain dan Amerika Utara
mengikuti pula berangsur-angsur. Teknik dan peraturan bekerja di sana sekarang
telah sampai pada tingkat yang setinggi-tingginya seperti yang belum pernah dikenal
oleh riwayat dunia. Tenaga produksi dan distribusi jauh melewati batas
keperluan nasional. Eropa dan Amerika Utara telah menjadi negeri kapitalis yang
matang.
Kapital memisahkan kota dengan
desa. Kota menghasilkan produksi industri dan produksi pertanian. Makin maju
kapitalisme, semakin banyak penduduk yang tadinya di desa-desa ditarik ke
kota-kota. Bukankah di kota sewaktu keadaan politik dan ekonomi baik, kita
peroleh lebih banyak pekerjaan, lebih banyak rumah-rumah pendidikan dan lebih
banyak kesenangan daripada di desa-desa? Pada tahun 1790 di kota-kota berdiam
3.4% dan di desa-desa 96.6% penduduk dari seluruh penduduk, dan pada tahun 1920
menjadi 51 % dan 49%. Di tahun 1870 angka-angka itu jadi 21% dan 79% dan di
tahun 1910 jadi 51 % dan 49%. Jadi, jumlah penduduk di desa-desa pada tahun
1920 lebih kecil dari penduduk kota. Angka-angka ini membuktikan secara nyata
pada kita perihal kemajuan kota-kota Amerika, sebagai akibat dari kemajuan
industrialisasi. Di negeri Inggris proses pembagian itu (perihal kota dan desa)
sama teratur dan sama cukupnya. Pada tahun 1850 di kota-kota berdiam 49%
penduduk dari seluruh penduduk. Pada tahun 1900 perbandingan ini menjadi 77%
dan 23%, (The relation Governement to industry, M.L. Regua).
Menurut foods No. 73 tahun ini,
jumlah penduduk dan kota-kota yang mempunyai lebih 10,000 jiwa di Jawa dan
Madura baru 60% dari seluruh penduduk.
Jika kita pakai perbandingan
antara penduduk kota dan desa sebagai ukuran kemajuan industri satu-satu
negeri, niscaya industri Indonesia masih di dalam keadaan bayi.
Jika kita ambil pula jumlah
panjangnya jalan kereta api untuk menggambarkan kemajuan industri selaku
penjelasan uraian kita yang di atas, nyatalah kepada kita bahwa negeri Jerman,
dengan 177,000 mil persegi luasnya dan penduduknya yang lebih sedikit dari
Indonesia, pada tahun 1913 mempunyai 38,809 mil jalan kereta api, sedang
Indonesia yang luasnya 735,000 mil persegi, pada tahun 1919 hanya ada mempunyai
3,914 mil.
Perihal jumlah perdagangan
(impor-ekspor) di Indonesia 1924 (sesudah perang dunia) ada f 2,208,800
(menurut International Ocean, no. 526, Negeri Jerman pada tahun 1913 [sebelum
perang] ada f 13,375,000.000). Angka-angka ini menunjukkan kemunduran kita.
Tetapi jika dibandingkan dengan negeri seperti Inggris, India, dan Filipina,
kelihatannya Indonesia belum berapa mundur. Dan bila dibandingkan dengan Turki,
Siam, dan Tiongkok, Indonesia jauh lebih baik. Dengan membuat perbandingan itu
sebagaimana yang sudah kita lakukan, sebetulnya ini telah melebihi dari
kemestian. Maksud kita tak lain ialah untuk menerangkan betapa mudanya
kapitalisme di Indonesia.
2. Tumbuh Tidak dengan Semestinya
Kapitalisme di Indonesia tidak
dilahirkan oleh cara-cara produksi bumiputra yang menurut kemauan alam. Ia
adalah perkakas asing yang dipergunakan untuk kepentingan asing yang dengan
kekerasan mendesak sistem produksi bumiputra.
Bila kita perhatikan perkembangan
kapitalisme di Eropa dan Amerika, nyatalah pada kita bahwa cara produksi yang
tua berturut-turut digantikan oleh yang muda. Biasanya kejadian itu tidak
tampak jelas, tetapi adakalanya cepat sehingga cukup jelas. Kejadian yang
belakangan ini ialah oleh adanya pendapatan-pendapatan baru. Biar bagaimanapun
keadaan saat itu, ia adalah kemajuan menurut alam, sebab tenaga yang
mendorongkan pada kemajuan itu ada di dalam genggaman masyarakat di Eropa dan
Amerika sendiri.
Sebagaimana yang telah kita
tunjukkan, kemajuan industri di setiap negeri sejajar dengan timbulnya
kota-kota yang mengeluarkan terutama barang-barang industri seperti barang-barang
besi, perkakas pertanian, obat-obatan dan lain-lain. Desa-desa mengeluarkan
beras, sayur-mayur, binatang ternak, susu dan lain-lain. Barang-barang kota
yang berlebih — yakni barang itu dipandang penduduk kota sebagai keperluan
hidupnya ditukarkan dengan barang-barang desa yang berlebih itu.
Di Amerika pada waktu yang biasa
seperti pada tahun 1913, selagi negeri ini terpencil dan kurang imperialistis,
seperti sekarang ini, boleh dikatakan sama besarnya perbandingan antara
barang-barang industri dengan pertanian (harga pasar antara kedua barang itu
hampir sama). Jadi dalam pemandangan ekonomi kota memenuhi keperluan desa, desa
memenuhi keperluan kota.
Di Indonesia sebagai akibat
kemajuan ekonomi yang tidak teratur sebagaimana mestinya, tidak seperti di atas
keadaannya. Kota-kota kita tak dapat dianggap sebagai konsentrasi dari teknik,
industri, dan penduduk. Ia tak menghasilkan barang-barang baik untuk desa
maupun untuk perdagangan luar negeri, dari kapitalis-kapitalis bumiputra.
Mesin-mesin pertanian, keperluan rumah tangga, bahan-bahan untuk pakaian dan
lain-lain tidak dibuat di Indonesia, tetapi didatangkan dari luar negeri oleh
badan-badan perdagangan imperialistis. Desa-desa kita tak menghasilkan barang
kebutuhan untuk kota-kota, karena untuk mereka sendiri pun tak mencukupi. Beras
misalnya, makanan rakyat yang terutama mesti didatangkan dari luar, di tahun
1921 seharga f 114,160,000, meskipun bangsa kita umumnya sangat pandai
mengerjakan tanahnya dan semua syarat untuk menghasilkan beras bagi keperluan
sendiri bahkan dapat pula mengeluarkan berasnya yang berlebih. Desa-desa kita
mengeluarkan gula, karet, teh, dan lain-lain barang perdagangan yang mengayakan
saudagar asing, tetapi memiskinkan dan memelaratkan kaum tarsi; kota-kota kita
bukanlah menjadi pusat ekonomi bangsa Indonesia, tetapi terus-terusan menjadi
sumber ekonomi yang mengalirkan keuntungan untuk setan-setan uang luar negeri.
Bahan yang menyebabkan
kapitalisme bukanlah Indonesia — mengingat riwayat negeri kita yang tersebut di
atas — teranglah bagi kita.
Sudah kita lihat bahwa politik
perampok bangsa Belanda, memusnahkan sekalian benih-benih industri bumiputra
yang modern. Hongi-hongi cultuur stelsel, monopoli stelsel dan gencetan pajak
yang tak ada ampunnya. Dan pemasukan saudagar-saudagar Tionghoa yang teratur di
zaman Kompeni Timur Jauh (VOC) menghancurluluhkan sekalian alat-alat sosial
ekonomi dan teknik nasional yang kuat.
Jika sekiranya bangsa Indonesia
tidak dirampok, dan mempunyai kepandaian teknik, serta dipengaruhi oleh orang
asing, tentulah orang Indonesia ada kesempatan untuk memenuhi kemauan alam.
Boleh jadi dengan secara damai
(seperti di Jepang) atau dengan perantara pemboikotan nasional (seperti di
India) kaum menengah Indonesia atau Indo dengan jalan mengumpulkan kapital
nasional mendirikan industri untuk memenuhi kebutuhan nasional seperti tenun
besi.
Demikianlah, kapital Indonesia
timbul dengan teratur pula antara lapisan-lapisan sosial Indonesia dan
mempunyai perhubungan yang teratur. Saudagar Indonesia yang dulu kecil sekarang
sudah menjadi bankir atau mengepalai perusahaan yang besar-besar. Penempa besi,
tukang tukang gula, saudagar batik yang dulu kecil menjadi pemimpin industri
logam, gula atau tenun. Tetapi imperialisme Belanda dalam 300 tahun tak
meningkatkan apa pun untuk bangsa Indonesia, semua habis diangkut ke negerinya.
Ia memuntahkan kapitalisme kolonial Belanda yang tidak ada duanya di dunia.
Maju ke dalam perjuangaan ekonomi
melawan raksasa asing, dengan maksud meningkatkan industri nasional sama dengan
"menjaring angin".
3. Kapital Indonesia Itu Internasional
Imperialisme Inggris dengan
industri nasionalnya yang nomor wahid dan armada yang luar biasa, semenjak
semula merasa perlu mengadakan kompromi dengan raja-raja, dan tuan-tuan tanah
bangsa India, untuk mempertahankan diri terhadap borjuasi bumiputra yang baru
timbul. Tetapi tatkala yang tersebut belakangan ini keluar dari medan
perjuangan dengan kemenangan (di tahun 1900-1905 dan 1919-1922), Inggris
mengulurkan tangannya.
Bersama dengan raja-raja,
tuan-tuan tanah dan borjuasi India yang baru itu, dia pergi memperkuda punggung
rakyat yang menggerutu itu. Bagaimanapun sulitnya imperialisme Inggris, ia
masih mempunyai tujuan di dalam kerajaan sendiri.
Imperialisme Belanda memukul dan
menendang "kerbau" yang sabar itu, sekian lamanya, hingga sekarang
kerbau itu mempergunakan tanduknya.
Belanda kecil yang di waktu dulu
menelan segalanya untuk dirinya sendiri, sekarang terpaksa membagi-bagikan itu
dengan negeri-negeri yang lebih kuat.
Adapun kekurangan kapital dan
industri, adalah sebab yang terpenting dari tindakan Belanda itu, maka semenjak
beberapa tahun, kapital Inggris memegang peranan besar di Indonesia. Raffles
yang bijaksana itu sudah lama melihat hal ini dan tidak puas sebelum ia dapat
mengelabui mata Belanda-tani itu. Setelah perang dengan Napoleon berhenti,
Inggris mengembalikan sekalian koloni Belanda. Perbuatan ini seakan-akan sangat
bertentangan dengan politik yang waktu itu dipakai Inggris, tetapi setelah
dicermati perbuatan itu adalah politik Inggris yang selicin-licinnya dan
semurah-murahnya dalam memakai Belanda sebagai opas untuk kapital yang
ditanamnya di Indonesia. Apakah pengambilalihan seluruh administrasi yang ada
di Indonesia memberi tanggung jawab dan kesusahan kepada Inggris? Kapital
Inggris yang beberapa tahun belakangan ini makin hari makin besar, bagi Belanda
— kecil sangat mengkhawatirkan, dan bangsa Indonesia sekarang tak sabar lagi,
hingga Belanda sekarang berniat memakai "politik pintu terbuka".
Istilah yang sebenarnya diambil dari kamus Amerika ini sungguh cocok dengan
politik Belanda di Timur. Dalam kata-kata biasa, ia berbunyi: "Dan
terhadap kapital Inggris serta bangsa Indonesia yang telah terjaga dari
tidurnya, semestinya Belanda lebih kuat bila mempunyai Amerika yang demokratis.
Tetapi negeri ini mesti ditarik ke Indonesia. Kapitalnya ditanam di Indonesia
dengan segala daya upaya dan, jika perlu, diberikan hak-hak yang luar biasa.
Jika tiba masanya, kelak Amerika bergandeng tangan dengan Belanda".
Uang dan susah payah tak
diperhitungkan demi kapital Amerika. Seorang menteri pernah berkata terus
terang di dalam kamer, bahwa: Kedatangan kapital Amerika sangat mudah karena
undang-undang di Indonesia sekarang. Kunjungan Fock ke Manila pada tahun 1923,
dan kedatangan beberapa kapal perang ke Filipina, mendudukkan seorang konsul
jendral di New York yang kerjanya selain hilir mudik dengan perundingan dan
perjanjian juga menghambur-hamburkan uang buat reklame, pamflet dan majalah
yang selama bertahun-tahun memuat perihal Jawa sang negeri ajaib (Java the
Wonderland). Semuanya itu adalah untuk memikat pelancong-pelancong dan
kapitalis Amerika supaya datang berduyun-duyun ke Indonesia.
Berapa besar kapital Belanda itu
dapat kita lihat pada angka-angka di bawah ini.
Dalam buku Handbook voor cultuur
en handsondernemingen in Ned. India ditulis oleh Agulvant, kapital yang ditanam
di Indonesia ditaksir sejumlah f 3.270.000.000. Di antaranya f 1.27,000,000 di
dalam kebun-kebun, minyak f 900,000,000. Dalam bank dan perdagangan f 750,000,000.
Perusahaan kapal, kereta api dan
tram masing-masingnya f 250.000.000, f 220.000.000 dan f 200,000,000.
Tambang-tambang f 70,000,000 dan maskapai-maskapai asuransi f 60,000,000.
Kapital yang ditanam di Sumatera
Timur pada tahun 1924 sejumlah f 439,000,000. Di antaranya 55.3% kepunyaan
Belanda dan 44.7% kepunyaan bangsa asing. Kapital bangsa asing yang ditanam
dalam industri pertanian sejumlah f 200,000,000. Di antaranya f 147,500,000
adalah kapital Inggris, f 300,000,000 milik Prancis dan Belgia, f 15.700.000
milik Jepang dan f 4.000.000 milik Jerman (International Ocean. No. 6, 1926).
Luas kebun karet pada tahun 1924
sebesar 241,357 bau [note 1]. Di antaranya 42.2% kepunyaan bangsa asing dan
32.4% kepunyaan Inggris. Berhubung dengan monopoli Inggris, kapital karet
Amerika beberapa tahun belakangan ini sangat cepat meningkatnya di Sumatera.
Luas kebun teh di Jawa 116,664 bau. Kepunyaan bangsa asing 23.8% dan Inggris
17.8%.
Dari tujuh macam hasil utama yang
dikirimkan ke pasar-pasar di seluruh dunia, ekspor gula di tahun 1924, f
491,100,000 atau 32.1 % dari jumlah ekspor. Karet f 202,600,000, atau 13.2%
dari ekspor. Minyak tanah f 158,300,000, tembakau f 123,600,000, kopra f
97,400,000, teh f 93,600,000 dan kopi f 56,600,000 yakni masing-masing 10.3%;
8.1%; 6.4%; 6.1%; dan 4.3% dari jumlah ekspor semuanya.
Pada tahun 1924 ekspor ke tanah
Inggris dan di jajahannya 42.55% dari semua ekspor dan ke negeri Belanda hanya
19.7%, sedang 40.4% dari Inggris dan tanah jajahannya.
Jadi teranglah, bahwa perdagangan
Inggris di Indonesia lebih besar dari semua negeri asing, sedangkan di dalam
perusahaan minyak dan kebun-kebun yang terpenting, kapital Inggris memegang
peranan yang terbesar di antara kapital bukan Belanda. Jadi tidaklah
mengherankan mengapa orang Belanda tergesa-gesa memikat kapital Amerika.
Betul beberapa tahun belakangan
ini, karena iri hati melihat Inggris menjalankan politik karet dengan cara
monopoli, Amerika mulai menanam kapitalnya di kebun karet di Sumatera Timur.
Akan tetapi, hal itu belum menjadi satu kepastian, apakah Amerika hendak
menanamkan kapitalnya di Sumatera dan Jawa saja, sebab di Mindanau (Filipina
Selatan) dan Liberia ada tanah yang subur untuk kebun karet.
Mengakui dan melindungi industri
bumiputra yang modern seperti di India menurut pandangan ekonomi baru tidak
akan ada sama sekali, sebab industri bumiputra modern memang tidak ada. Rakyat
hanya diperas, diinjak-injak dan ditipu. Pemecatan kaum buruh bukanlah satu
keanehan, dan cengkraman pajak makin lama makin erat. Ekonomi rakyat tak perlu
disebut-sebut sebab negeri Belanda terutama bergantung pada kapital luar
negeri.
[note 1] 1 bau = 500 tombak
persegi atau 7096 m2.








0 komentar:
Posting Komentar