Seorang filsuf Barat pernah
ditanyai seperti ini.
Filsuf itu menjelaskan, “Tahukah
kamu? Ketika bangsa kita
masih barbar dan hidup dalam masa
kegelapan,
India sudah memiliki peradaban
yang jauh lebih maju.
Itu ditunjukkan dengan
berkembangnya pemikiran spiritual.
Hanya peradaban yang maju bisa
memikirkan hal-hal seperti itu.”
1. PENDAHULUAN
India terkenal dengan filsafat
spiritual yang sangat kaya dalam menunjukkan petunjuk ideal tentang hidup.
Filsafat India tidak hanya menyajikan intelektualitas tapi juga menyentuh
jantung eksistensi yang mengarah pada perbaikan diri. Umumnya orang hanya
mengenal India sebagai asal dari agama Hindu dan Buddha. Penyebutan Hindu itu
sendiri terlalu luas. Kenyataannya Hindu itu sendiri memuat beberapa sistem
filsafat. Secara populer, orang mengenal ajaran Hindu dalam epos Mahabharata
dan Ramayana yang mendunia. Penyebutan Hindu itu sendiri ada ketika orang Islam
menyebut orang yang beragama berbeda di lembah Indus. Hindu mengacu pada agama
orang-orang yang tinggal di sekitar lembah Indus. Sementara agama Buddha
akhirnya lenyap di India namun menyebar melampaui batas benua asalnya.
Dalam tulisan ini, saya
menjelaskan sejarah filsafat India secara singkat. Tujuan saya adalah
menjadikan tulisan ini sebagai pengantar awal sebelum mungkin pembaca nantinya
mempelajari filsafat India tertentu secara lebih mendalam. Bagi mereka yang
tertarik dengan latihan spiritual, memahami filsafat India bisa menjadi rujukan
utama dan dapat diandalkan. Sejarah filsafat India menunjukkan evolusi pemikiran
dan spiritual yang mungkin menjadi pemikiran yang sama dengan yang sedang kita
alami. India adalah laboratorium yang menampung banyak pelajaran karena telah
menghasilkan banyak sistem filsafat. Ada keunikan mendasar dalam sejarah
filsafat India. Dunia Barat pada akhirnya mengakui kecanggihan sistem pemikiran
India. Sementara sekarang ini banyak orang Timur justru tidak tahu menahu
identitas dirinya. Cenderung mengikuti gaya hidup Barat, suatu sikap dan gaya
hidup yang sudah banyak ditinggalkan oleh orang Barat itu sendiri.
2. PRA-VEDA
Memahami sejarah filsafat India,
kita mesti tahu latar belakang sebelum masuknya bangsa Arya yang nantinya
membawa Veda dan menetapkan sistem kasta. Veda disebut sebagai literatur India
kuno paling awal. Max Muller menyebutkan Veda ada tahun 1200 SM. Hang tahun
2400 SM, dan Balgangadhara Tilak menyebutkannya lebih lama lagi yaitu sekitar
4000 SM.
Sebelum masuknya bangsa Arya,
lembah Indus sudah memiliki peradabannya sendiri, kebudayaan Dravida, dengan
peninggalan Mahenjo Daro yang berawal sekitar 4000 SM. Dari reruntuhan situs
menunjukkan bahwa bangsa Dravida yang dicirikan bertubuh pendek, berkulit gelap
dan berhidung pesek, memiliki bentuk religi yang menghormati kultus lingga dan
praktik bertapa yang lebih mengarahkan diri kedalam. Ada juga peninggalan
bangsa Dravida dalam memuja dewi ibu. Bangsa Arya merupakan satu rumpun dengan
bangsa Mesir dan Indo Jerman, yang bercirikan bertubuh tinggi, hidung mancung,
mata lebar dan kulit putih. Bangsa Arya gemar berperang dan lebih progresif
dalam menaklukkan lawan-lawannya. Semangat seperti ini juga nampak dalam
himne-himne Veda. Agama yang ditampilkan bangsa Arya lebih berorientasi ke luar
seperti memuj dewa-dewa yang mewakili kekuatan alam. Masa berkuasanya bangsa
Arya juga membuat adanya pergeseran cara hidup nomaden menjadi bertani. Dari
situlah peradaban bangsa Arya dibangun.
Ketika bangsa Arya menguasai
bagian barat laut dan utara tengah, bangsa Dravida menjadi kasta bawah. Namun
kemuliaan bangsa Dravida tidak sepenuhnya lenyap di bagian timur laut. Nantinya
religi bangsa Dravida bangkit kembali dengan munculnya Jainisme. Ada dugaan
kuat bahwa tantra yang berkembang belakangan adalah bentuk religi awal bangsa
pribumi ini karena simbol lingga juga menjadi bagian dari simbol tantra.
Seperti yang sudah saya sebutkan,
bentuk awal agama bangsa Arya lebih berorientasi keluar lalu mulai mengalami
pembalikan ke dalam dengan mengadopsi agama bangsa Dravida. Pada masa munculnya
Brhadaranyaka Upanisad –salah satu bagian dari Veda—sekitar 2000-900 SM, nampak
adanya pergeseran penekanan pada orientasi ke dalam. Penemuan religi ini adalah
kalimat sayasca ayam puruse yasca ditye sa ekah (dia yang ada dalam manusia dan
dia yang ada di matahari adalah satu, dan Satyam Brahman (the true brahman)
adalah aham (cahaya) di dalam matahari dan aham (saya) didalam manusia. Konsep
Ketuhanan Veda adalah Brahman, yang sering disimbolkan seperti cahaya, sebagai
sumber utama.
Kebudayaan pra-Arya (Dravida)
bukan hanya tradisi kontemplatif seperti meditasi. Ada juga pemujaan populer
pada dewa-dewa tertentu. Bangsa Arya tidak menghancurkan semuanya tapi mengubah
bentuk pemujaan pra-Arya dan juga dewa-dewa Arya sebagai simbol tahapan proses
spiritual. Bangsa Arya memuja kekuatan alam, itu nampak dari dewa-dewa yang
menunjukkan kekuatan alam yang mengontrol hidup manusia. Namun kesibukan
filosofis bangsa Arya akhirnya mengarah pada pemahaman bahwa keselamatan bukan
dari luar tapi dari dalam diri manusia sendiri. Walaupun demikian, kultus dewa tetap
dilakukan namun terarah pada jalan pengenalan diri, yang berpuncak pada
realisasi atman atau nirvana, bukan berorientasi pada surga atau tujuan-tujuan
duniawi. Tujuan manusia bukan lagi pada kesenangan (kama), kesuksesan (artha)
saja, tapi juga pada kewajiban (dharma), dan juga kebebasan atau keselamatan (moksha).
3. VEDA
Veda dikenal sebagai literatur
awal India kuno, paling tidak dalam bentuknya yang lebih tertata, karena memang
menjadi sumber rujukan bangsa Arya.
Dr. Radhakrishnan membagi periode
filsafat India dalam empat periode:
1.
Periode Veda,
2.
Periode Epik,
3.
Periode Sutra, dan
4.
Periode Sekolah (school).
Periode Veda terhitung 1500 -600
SM. Artinya, Veda tidak disusun dalam satu masa, tapi dalam kurun waktu yang
lama, hingga akhirnya menjadi empat bagian, yaitu: Rig Veda, Yajur Veda, Sama
Veda, dan Atharva Veda. Masing-masing bagian terbagi dalam empat bagian, yaitu:
samhitas (mantras), brahmana, aranyakas, dan upanisad.
Khrisna dan Arjuna dalam Maha
Barata
Pada periode Epik, filosof
spiritual menyelamatkan kekayaan spiritual dalam bentuk Sutra. Sutra adalah
kalimat epikgramatis dalam bentuk syair. Periode ini terhitung 600 SM- 200 M.
Pada periode ini Badarayana menulis Brahma-Sutra atau juga disebut sebagai
Vedanta-Sutra. Sutra inilah yang menjadi fondasi sekaligus perbedaan
interpretasi sistem filsafat di India.
Disebutkan ada enam sistem
filsafat India yang menjadikan Brahma-Sutra sebagai dasarnya:
1. Vaishesika,
2.
Nyaya,
3.
Samkhya,
4.
Yoga,
5.
Purva-mimamsa, sering disebut karma-mimamsa atau mimamsa, dan
6.
Uttar-mimamsa, sering disebut vedanta.
Enam sistem filsafat ini disebut
juga sad-dharshana, yang digolongkan sebagai sistem ortodoks (astika). Pada
periode Epik ini juga muncul sistem filsafat lain, yang digolongkan sebagai
sistem heterodoks (nastika). Disebut heterodoks, karena mereka menolak otoritas
Veda, seperti Carvakisme, Jainisme, dan Buddhisme.
Beriringan periode Sutra Periode
adalah periode Sekolah (school) yang terhitung 200–1700 M. Pada periode ini,
para filosof membuat komentar Sutra untuk memudahkan pemahaman siswa bahkan
tiap filosof membuat versi pemahamannya sendiri. Filosof yang terkenal adalah
Shamkaracharya, Ramanujacharya, dan Madhavacharya. Akhirnya Vedanta memiliki
tiga sekolah: Advaita Vedanta versi Shamkaracharya, Vishishtadvaida Vedanta
versi Ramanujacharya, dan Dvaita Vedanta versi Madhavacharya.
5. SISTEM ORTODOKS
5.1. NYAYA DAN VAISHESIKA
Nyaya didirikan oleh Gautama
Aksapada (150 M). Nyaya berisi ajaran tentang logika seperti aturan debat dan
beberapa subyek dasar seperti dunia materi, jiwa, Tuhan dan kebebasan.
Vaishesika didirikan oleh Kanada
atau juga disebut Uluka yang hidup antara 200 M-400 M. Vaishesika memuat
teori unsur / atom dengan menggunakan logika yang ada pada Nyaya untuk analisa
eksistensi material.
Vaishesika menjelaskan materi
tersusun dalam empat unsur, yaitu: tanah, api, air dan udara. Ether (akasha)
tidak termasuk. Penciptaan tergantung kehendak Sang kuasa yang mengatur alam
semesta. Proses penciptaan dan penghancuran itu tanpa awal. Istilah penciptaan
itu sendiri sebenarnya salah. Karena setiap penciptaan mesti melalui kehancuran
lebih dulu, dan kehancuran mesti diawali penciptaan. Apa yang disebut
penciptaan pada dasarnya hanya kehancuran bentuk lama dan menjadi sesuatu yang
lebih baru.
Nyaya dan Vaishesika, keduanya,
oleh penganut Vedanta dianggap sebagai batu loncatan filsafat Vedanta, yang
bercirikan monisme. Sedangkan Samkhya dan Yoga sebagai jembatan menuju
Vedanta. Dengan kata lain, Nyaya dan Vaishesika menduduki filsafat yang paling
dasar. Samkhya dan Yoga diatas mereka, dan yang paling puncaknya adalah
Vedanta.
5.2. SAMKHYA
Samkhya secara harafiah berarti
pengetahuan benar seperti angka. Didirikan oleh Kapila. Ada dugaan Kapila hidup
sebelum Buddhisme lahir, karena itu untuk menghormatinya ada kota bernama
Kapilavastu, yang juga merupakan kota kelahiran Sidharta Gautama (yang nantinya
dikenal sebagai Buddha). Namun demikian para ahli berpendapat bahwa karya
Samkhya-Sutra yang menurut tradisi adalah milik Kapila sendiri, tidak lebih
awal dari 1380-1450 M.
Samkhya memuat analisis materi
dan jiwa. Selanjutnya berkembang dalam dua bagian, yaitu theis (seswara) dan
atheis (niriswara).
Pokok ajaran Samkhya adalah
pembagian realitas menjadi dua, yaitu: materi (prakrti) dan jiwa (purusa). Prakrti
selalu berubah dan purusa selalu tetap dan bukan subyek yang berubah. Purusa
disebut bebas dan berkesadaran murni. Bila purusa dan prakti ini terpisah, maka
purusa terbebaskan. Maka arti pembebasan dalam Samkhya berarti pencapaian pada
tingkat mengatasi alam.
Samkhya yang berkembang
belakangan juga dipengaruhi Buddhisme. Vijnanabhiksu, seorang penulis Samkhya
pada abad ke-16 M mencoba mengkaji ulang kebutuhan akan konsep Tuhan. Jika
Tuhan memiliki keinginan, maka Tuhan tidak bebas. Jika Tuhan bebas, maka Tuhan
tidak akan menciptakan dunia yang penuh penderitaan. Lalu dibawa pada dua
alternatif pandangan. Tuhan itu tidak adil dan kejam, atau Tuhan itu tidak
bebas dan tidak berkuasa. Jika ditentukan oleh hukum karma, maka Tuhan tidak
bebas, sebaliknya Tuhan adalah tirani (seperti raja yang lalim karena
sewenang-wenang). Jika Tuhan adalah pengetahuan murni, maka dunia materi tidak
mencemarinya. Konsep purusa tidak konsisten dengan konsep Tuhan. Jika manusia
adalah bagian dari Tuhan, maka manusia pasti punya kekuatan dan bisa melakukan
apapun. Atheisme Samkhya kurang lebih memahami dari sudut pandang seperti ini.
Samkhya sering disebut sebagai
dualis, realis dan pluralis. Disebut dualis karena memperkenalkan prakrti dan purusa.
Disebut realis karena menganggap materi dan spirit sama. Pluralis karena purusa
ada banyak, bukan cuma satu.
5.3. YOGA
Didirikan oleh Patanjali sekitar
abad ke-2 SM. Patanjali mensistematisasi ulang filsafat yoga yang sebenarnya
sudah ada pada zaman sebelumnya. Filsafat yoga dekat dengan Samkhya dan
menggunakannya sebagai dasar praktik displin dan latihan yang mengarah pada
pembebasan. Karena itu sering disebutkan bahwa Samkhya adalah teorinya dan Yoga
adalah praktiknya. Yang berbeda dari Samkhya bahwa Yoga tidak menolak
eksistensi Tuhan dan bersifat theis. Sedangkan Samkhya, seperti yang sudah saya
jelaskan, terbagi dua, yaitu: theis dan atheis. Pembagian theis dan atheis itu
sebenarnya kurang tepat juga, nanti akan saya jelaskan pada bagian Buddhisme.
Patanjali memahami Tuhan sebagai Purusa
khusus yang selalu bebas dari penderitaan. Tuhan diluar dari hukum karma.
Karenanya Tuhan tidak mengabulkan kebebasan. Devosi atau bentuk pemujaan pada
Tuhan lebih sebagai sarana untuk meningkatkan konsentrasi. Tuhan hanya membantu
menghilangkan halangan dan tidak melakukan apa-apa dalam hal kebebasan Purusa.
Kebodohan batin (avidya) menyebabkan diskriminasi purusa dan prakrti. Akhir
dari kehidupan manusia adalah bukan bersatunya dengan Tuhan tapi hanya
terlepasnya purusa dari prakrti.
5.4. KARMA-MIMAMSA
Karma-Mimamsa sering disebut
mimamsa saja. Didirikan oleh Jaimini (200 M / 450 M). Mimamsa lebih
banyak memaknai ritual Veda. Pada tahun 500 SM, ritual veda dipahami secara
keliru oleh brahmana pada zaman itu, salah satunya adalah pengorbanan hewan.
Karena itu muncul Buddhisme yang berhadapan dengan Mimamsa. Penekanan
pada tanpa kekerasan (ahimsa), bukan hanya dari Buddhisme tapi juga Jainisme.
Karma-mimamsa yang didirikan Jaimini berbenah diri dengan memahami ritual veda
yang mampu menghapus karma negatif dan mengarah pada kebebasan setelah
kematian.
5.5. VEDANTA
Vedanta berarti akhir dari veda,
karena merupakan perkembangan filsafat veda yang paling akhir dan puncak.
Sistem Vedanta hadir ketika bagian akhir dari Veda muncul, yaitu Upanisad.
Vedanta juga disebut uttara mimamsa yang berarti penyelidikan kedua, karena
ajaran ini mengkaji Upanisad.
Vedanta memiliki beberapa sistem
filsafat yang masing-masing memiliki tokohnya. Tiga yang paling terkenal
adalah Sankhara (788M-820/850M), Ramanuja (1175M-1250M) dan Madhva
(1238-1278 M). Sesuai dengan Upanisad, semuanya menganggap Tuhan (Brahman) sebagai
realitas tertinggi. Semua mengakuinya secara absolut, sesuai dengan monisme
dalam Upanisad.
Dalam Nyaya dan Vaishesika,
hakikat diri adalah ada dan tanpa kesadaran. Samkhya dan Yoga, hakikat diri
adalah ada dan kesadaran. Pada Vedanta, hakikat diri adalah ada, kesadaran dan
bahagia (sat, cit, ananda).
Gaudapada yang diduga guru
Govinda, yang adalah guru dari Sankhara pernah menyebutkan, “Tidak ada
keteruraian, tidak ada perbudakan dan tidak ada calon Brahman; juga tidak ada
orang yang sangat menginginkan kebebasan atau jiwa yang terbebas. Inilah puncak
kebenaran.” Inilah yang menjadi ajaran paradoksal yang meniadakan diri dari
Advaita (Vedanta versi Sankhara), yang selaras dengan teks-teks Buddhisme
terutama ajaran tanpa diri (anatman/anatta).
Vedanta versi Sankhara menyatakan
diri sebagai non dualisme (advaita), maksudnya tidak ada perbedaan antara Tuhan
(Brahman) dan Diri (Atman). Tuhan adalah dasar dari seluruh pengalaman. Tuhan
tidak sama dengan dunia, juga tidak berbeda, dan ada. Diri individual
adalah sama dengan Atman yang dibatasi. Moksa atau realisasi diri bisa
dicapai dengan praktik devosi dan latihan dan bisa dicapai selama orang
masih hidup (tidak menunggu setelah kematian). Moksa bukan hancurnya dunia,
dunianya tetap ada, hanya saja cara pandang terhadap dunia yang sudah berubah
dan telah menyingkirkan kebodohan (avidya).
Guru Vedanta
Ungkapan terkenal dalam Vedanta: tat
tvam asi (dia adalah dirimu). Menurut ringkasan pendahuluan ajaran ini yang
dijabarkan dalam Vedantasara karya Sadananda abad ke-15. Diri ditutupi lima
pelepah (lima pelais psikosomatis):
1.
Pelepah yang terbuat dari makanan, yang tidak lain adalah tubuh kasar atau
dunia materi.
2.
Pelepah yang terbuat dari energi (prana).
3.
Pelepah yang terbuat dari pikiran (manas).
4.
Pelepah yang terbuat dari pemahaman (vijnana), atau tubuh halus.
5.
Pelepah yang terbuat dari kebahagiaan (ananda), atau tubuh kausal.
Tubuh kausal ibarat tutup
kebodohan (avidya), pelepah paling bawah dari seluruh ciptaan dunia. Hanya
pengetahuan (vidya) yang membebaskan diri dari pelepah ini.
Bentuk praktis dari Vedanta,
seperti pada ringkasan “Spiritual teaching” karya Swami Brahmananda.
Tahap-tahap jalan advaita Vedanta menuju pada kesadaran Tuhan (Brahman):
1.
Puja.
Puja artinya melakukan
penyembahan eksternal dan mental. Mengabdikan diri pada dewa (ista-devata)
pilihan.
2.
Meditasi dan japa mantra.
Menyebutkan nama suci secara
berulang-ulang. Menyertakan visualisasi dewa. Merasakan kehadiran dewa, namun
pada tahap lanjut tidak terbatas pada dewa. Jika sudah tidak terbatas pada
dewa, maka pikiran memasuki savikalpa samadhi, lalu ke nirvikalpa samadhi,
segalanya hilang dan masuk pada ketakterhinggaan. Inilah yang dimaksud dengan
kesadaran Tuhan.
Setelah Sankhara, ada Ramanuja
dan Madhava. Ramanuja hidup pada abad ke-11, ketika pengaruh agama Kristen di
India dan lenyapnya Buddhisme di India. Ramanuja menyebutkan penyebab
keberadaan bukanlah kebodohan tapi ketidakpercayaan dan pembebasan diraih
dengan mengabdi pada Tuhan. Karena itu ajaran Ramanuja lebih populer dalam
bentuk pemujaan. Bentuk pemujaan Ramanuja didasari bahwa Brahman secara abadi
bebas dari ketidakmurnian, dan materi atau dunia dan diri, hanyalah bagian dari
tubuh Brahman. Satu Brahman memiliki dua bentuk, yaitu: Diri dan materi.
Ramanuja menolak ajaran fenomenalitas dunia dan menyatakan Brahman sebagai
personal. Keselamatan bukanlah pelarutan pada Brahman, melainkan membebasan
dari halangan-halangan yang membatasi. Setinggi-tingginya manusia
merealisasikan diri, Brahman tetap yang paling tinggi, karena itu mesti
menghormatinya, berbakti dan melayaninya. Inilah yang menjadi dasar pemujaan
dalam ajaran Ramanuja.
Vishishtadvaida versi Ramanuja
mengakui adanya dua realitas, yaitu: realitas yang berdiri sendiri (sawatantra)
yaitu Tuhan, dan realitas yang tergantung dengan yang lain (paratantra).
Berbeda dengan Advaita yang hanya mengakui Brahman yang nyata, yang lain tidak.
Vishishtadvaida juga disebut sebagai Advaita dengan atribut. Maksudnya: Hanya
Brahman yang ada, sedangkan yang lain hanya atribut (visesa). Atribut itu nyata
tapi tetap tergantung pada Brahman.
Madhava adalah pendiri ajaran
Dvaita yang hidup tahun 1238-1278 M. Madhava pada mulanya belajar pada
Ashutyapreksa namun akhirnya tidak puas dengan interpretasi non dualis (advaita)
gurunya itu. Ajaran Madhava termasuk personal theism. Tuhan
adalah Hari, Vishnu, Narayana dan Vasudeva. Madhava memuja Tuhan dalam
bentuk dewa Visnu. Madhava juga membagi realitas seperti Ramanuja, yaitu:
realitas yang berdiri sendiri dan realitas yang tergantung. Diri (jiva) adalah
kekal (eternal), tapi tergantung dengan Tuhan. Ungkapan Vedanta: tat tvam asi
(dia adalah dirimu), tidak sepenuhnya Diri dan Tuhan adalah sama. Yang sama
hanyalah ezensinya. Penekan bhakti dalam Madhava adalah devosi sepenuhnya dan
sepenuhnya pasrah pada Tuhan, yang menjadi jalan keselamatan.
6. SISTEM NON ORTODOKS
6.1. CARVAKISME
Carvakisme atau Carvaka merupakan
salah satu sistem non ortodoks yang kuno dan kini tidak berkembang lagi.
Cara pandang paham ini adalah materialis, dimana hanya materi sebagai
satu-satunya kebenaran. Carvakisme memahami adanya empat unsur, yaitu: tanah,
air, api dan udara. Tapi tidak menerima konsep akasha, jiwa, dan Tuhan.
Referensi tentang Carvakisme juga
ditemukan dalam epik dan naskah Buddhisme awal. Brhaspati, dikenal sebagai
pendiri Carvaka. Dalam majjima Nikaya, dikenal seorang bernama Ajita
Kesakambali, yang seorang materialis. Ajita memiliki pemikiran fatalistik, yang
menyebutkan perbuatan baik tidak memiliki akibat, tidak ada kehidupan setelah
kematian. Materialisme menganjurkan pengejaran nafsu keinginan (kama) dan
kesuksesan (artha). Sedangkan kewajiban (dharma) dan kebebasan (moksa) ditolak
olehnya.
6.2. JAINISME
Jainism berasal dari kata “jina”,
yang berarti penaklukm penakluk ketamakan dan keinginan. Jainisme menolak
otoritas Veda dan mengaku tidak berasal dari Brahman-Arya tapi
merepresentasikan kosmologi dan antropologi pra-Arya (bangsa Dravida).
Pertapa jain mengejutkan kelompok raja Alexander ketika menaklukkan India.
Mereka menyebut para Jain sebagai gypnosof, filosof telanjang, karena
sebagian dari pertapa jain berpenampilan telanjang. Jainisme terbagi dua, yaitu
mereka yang memakai jubah putih (svetambaras), dan yang telanjang (digambaras)
Pendiri Jainisme tidak diketahui
dengan pasti tapi konon mengacu pada guru-guru peradaban pra-Arya. Dikenal
Parscva sebagai pemimpin Jain ke-23 (872-772SM). Dan Mahavira adalah pemimpin
ke-24, yang hidup sezaman dengan Buddha. Dalam naskah Buddhisme awal, Mahavira
juga dikenal dengan nama Nigantha Nataputta. Pemimpin Jain yang lain adalah
Mikkhali Gosala, yang mengajarkan ajaran deterministik. Gosala sebelumnya
adalah murid Mahavira, namun berselisih pandangan dan mempimpin kelompoknya
tersendiri.
Jainisme menganggap jiwa sebagai
mahkluk kecil seukuran ibu jari yang bersemanyam di dalam hati. Tubuh adalah
pakaian dan sel kehidupanlah yang menggerakkan tubuh. Kebebasan jiwa bisa
ditempuh dengan menaklukkan ketamakan dan keinginan dan karma. Jain menjunjung
tinggi prinsip tanpa kekerasan (ahimsa). Perjalanan individu menuju kesempurnaan
hanya manakala sel kehidupan tidak terkontaminasi oleh karma. Sel kehidupan
terkotori oleh karma, karena itu untuk memiliki sel kehidupan yang murni pintu
indria sebagai jalannya karma harus ditutup dan dijaga ketat. Proses
pembersihan terjadi dengan disiplin yang keras, menyiksa diri, hingga tidak
membedakan antara kesenangan, kesakitan, menjijikkan bahkan membahagiakan.
Pertapaan yang keras membakar benih-benih karma yang membuat sel kehidupan
menjadi semakin murni.
Kelompok Digambaras dalam Jain adalah
Tirthankaras, yang hidup sebelum Buddha, yang konon hidup tanpa makan. Ciri
unik Digambaras lainnya bahwa pertapa yang memiliki properti tidak akan bisa
moksa, dan juga wanita tidak bisa moksa.
Mikkhali Gosala yang pernah
bersama Mahavira memiliki pandangannya sendiri tentang proses pembersihan atau
keselamatan. Menurutnya keselamatan tidak bisa dipercepat. Kesempurnaan akan
terjadi dengan sendirinya jika saatnya sudah tepat. Ajaran deterministik Gosala
menyebutkan bahwa usaha untuk moksa adalah sia-sia. Evolusi spiritual tidak
bisa dipaksakan. Tidak ada juga manfaat devosi pada dewa yang mencampuri proses
penyempurnaan. Analogi yang digunakan adalah seperti bola benang yang dilempar
akan mengurai benang dan berhenti ketika gulungan benang sudah habis.
6.3. BUDDHISME
Sistem non ortodoks lain adalah
Buddhisme, yang didirikan oleh Sidharta Gautama atau lebih dikenal sebagai
Buddha (563-483SM). Buddhisme berkembang melampau batas benua India.
Kerangka dasar Buddhisme didasari
ajaran tentang empat kebenaran mulia (cattari arya sacca), yang terdiri dari
kebenaran tentang penderitaan, sebab penderitaan, lenyap penderitaan dan jalan
menuju lenyapnya penderitaan. Pendekatan Buddhisme tidak menjadikan dewa
ataupun otoritas ilahi sebagai pusat perhatian, tapi lebih pada aspek psikologi
dasar manusia bahwa masalah utama adalah penderitaan, karena itu tujuan hidup
adalah kebahagiaan, yang puncaknya adalah nirvana atau terbebasnya dari
penderitaan secara total. Proses pembebasan melibatkan latihan kemoralan (sila),
meditasi (samadhi), dan kebijaksanaan (panna), yang memperhatikan jalan tengah
(majjima patipada).
Jalan tengah artinya menghindari
perilaku ekstrim, yaitu ekstrim pemanjaan hidup pada kesenangan indria, atau
juga bertapa ekstrim dengan menyiksa diri. Jalan tengah adalah sikap Buddhisme
terhadap Carvakisme dan Jainisme.
Moksa bisa dicapai pada kehidupan
ini, bukan setelah kematian. Karena Buddhisme tidak melibatkan hal-hal
ilahi, moksa adalah mencapai nirvana, yang juga berarti bebasnya nafsu keinginan
(tanha), atau juga terputusnya siklus kelahiran kembali (samsara). Nirvana bisa
dicapai dalam kehidupan ini. Jika sudah mencapai nirvana, maka setelah mati
tidak akan terlahirkan kembali. Nirvana juga berarti hilangnya kebodohan (avidya)
dan tercapainya pengetahuan (vidya) sempurna.
Ada perbedaan konsep karma antara
Jainisme dengan Buddhisme. Dalam Jainisme, semua tindakan akan memberikan
akibat karma. Karena pertapa Jain sangat disiplin untuk tidak berbuat tindakan
yang dianggap merugikan mahkluk lain termasuk yang tidak disengaja. Sementara
dalam Buddhisme hanya perbuatan yang disertai niat (cetana) sajalah yang
memberikan akibat karma.
Buddhisme juga memiliki kesamaan
dengan Jainisme mengenai usaha pembebasan. Berbeda dengan paham deterministik
dari Mikkhali Gosala yang menyebutkan bahwa usaha itu tidak perlu. Usaha
(viriya) itu perlu dan proses penyempurnaan bisa dipercepat dengan disiplin dan
latihan.
Sebuah ciri khas lain dari
Buddhisme adalah ajaran tentang tanpa aku (anatta/anatman). Diri sejati itu
tidak ada, karena itu disebut anatman, sebuah ajaran yang berlawanan dengan
paham atman. Apa yang disebut Aku (Atman) itu hanya kumpulan agregat seperti kesadaran,
persepsi, sensasi dan bentuk-bentuk pikiran. Agregat itu disebut panca kandha,
suatu arus perubahan terus menerus yang tidak ada ezensinya yang permanen.
Justru karena kemelakatan terhadap sang Aku inilah yang membuat penderitaan
terjadi. Merealisasikan anatta adalah salah satu tahapan latihan dalam teknik
meditasi yang diajarkan Buddha.
Buddha pernah memberikan
perumpamaan bahwa ajarannya hanya sebanyak segenggam daun di tangan. Masih
banyak daun-daun lain di hutan, namun daun digenggaman tangan ini mampu
membebaskan diri dari penderitaan. Bentuk praktis Buddhisme adalah penghindaran
spekulasi filosofis yang terlalu rumit, yang sering tidak bisa mengatasi
penderitaan dan mencapai kebahagiaan. Karena itu Buddhisme juga sering disebut
psikologi tanpa psike (sinonim dengan Atman).
Beberapa sarjana menggolongkan
ciri non ortodoks dalam Buddhisme sebagai atheisme. Namun jika kita mencermati
lebih mendalam, atheisme adalah rival dari theisme. Dalam theis ada yang
mutlak, yang disebut Brahman. Sementara atheisme menolak yang mutlak. Brahman
diterjemahkan Tuhan. Berbeda dengan penekanan arti nirvana sebagai tujuan
Buddhisme. Nirvana juga mutlak, namun bukan personal, dan pencapaian nirvana
bukanlah realisasi yang obyektif. Karena nirvana bebas dari kondisi (sankhata).
Buddha menyebutkan nirvana sebagai hal yang tidak terkondisi (asankhata).
Sarjana belakangan menggolongkan Buddhisme sebagai paham non theis, untuk
membedakan dua kutub, yaitu theis dan atheis.
Beberapa sarjana juga
menggolongkan Buddhisme sebagai nihilis. Ini juga kurang tepat. Sang Buddha
memahami hal ini, seperti yang dapat kita lihat dalam cerita tentang
Vacchagotta, yang takut dan bingung terhadap doktrin anatman. Vacchagotta, yang
juga seorang pertapa menanyakan beberapa hal penting pada Buddha, seperti:
Apakah atman itu ada? Apakah atman itu tidak ada? Buddha hanya diam dan tidak
menjawab. Lalu Vacchagotta pergi. Salah satu murid Buddha bernama Ananda
bertanya mengapa Buddha hanya diam dan tidak menjawab. Buddha menjelaskan bahwa
Vacchagotta sedang mengalami kebingungan tentang atman, dan jika dijawab bahwa
atman itu ada, berarti Buddha mengajarkan paham eternalistik, teori jiwa yang
kekal, yang tidak disetujuinya. Namun, bila Buddha menjawab bahwa atman itu
tidak ada, Vacchagotta akan berpikir Buddha mengajarkan paham nihilistik, paham
yang mengajarkan bahwa makhluk hidup hanyalah suatu organisme batin-jasmani
yang akan musnah total setelah kematian.
Setelah raja Asoka (274-237 SM)
memerintah, Buddhisme berkembang sangat pesat di India. Misionaris yang dikirim
Asoka dan menuai hasil adalah di Srilangka, yang termasuk aliran Theravada,
ketika waktu itu belum muncul aliran Hinayana dan Mahayana. Hinayana dan
Mahayana muncul setelahnya dan itu menandai masuknya periode sekolah Buddhis (Buddhist
School). Pada periode ini, muncul sistem filsafat Madhyamika yang
disistematisasi oleh Nagarjuna (200 M). Lalu, Yogacara (vijnanavada) yang
didirikan oleh Asanga (350 M) dan Vasubhandu. Dua sistem filsafat Buddhis
inilah yang menjadi fondasi Mahayana berikutnya, termasuk tantra Buddhis atau
yang lebih dikenal sebagai Vajrayana. Aliran Mahayana berkembang di Cina,
Vietnam, Korea dan Jepang. Sementara Aliran Vajrayana berkembang di Tibet,
Butan, dan Mongolia. Theravada sendiri setelah Srilangka, menyebar ke Myanmar,
Laos, dan Thailand. Sedangkan Hinayana tidak berkembang ke luar dari India.
7. PENUTUP
Sejarah filsafat India adalah
evolusi pemikiran manusia yang mengarah pada spiritualitas. Saya memilih
menulis filsafat India karena budaya Jawa dan mungkin budaya lokal lainnya juga
memiliki akar yang sama dengan filsafat India. Jika kita cermati, setiap sistem
filsafat berkembang dengan caranya sendiri dan merupakan reaksi dari keadaan
yang diramaikan dengan perbedaan interpretasi akan nilai hidup. Bentuk primitif
agama, pada mulanya adalah pemujaan keluar, yang lebih sebagai sandaran
psikologis dalam diri manusia, lalu menjadi mengarah kedalam, mengarah pada
pemahaman diri, yang membawa transformasi diri yang lebih baik. Memanglah tepat
istilah Jawa “ageman”. Agama memang hanya pakaian (baca: ageman), hanya bentuk
luar, yang didalamnya mesti ada refleksi diri dan pencarian ke dalam. Walaupun
demikian, pencarian spiritual tidak bisa dipaksa, diatur secar mekanis, atau
juga dijadikan standar moral tertentu. Seperti yang dikatakan Mudji Sutrisno, “...filsafat
Timur lebih berupa suatu penawaran yang praktis mengenai kebahagiaan manusia.
Orang tetap bebas menghadapi penawaran ini.”







0 komentar:
Posting Komentar