Selasa, 03 Mei 2016

Pengantar Sejarah Filsafat India

0

“Mengapa sejarah filsafat India perlu dipelajari?
Seorang filsuf Barat pernah ditanyai seperti ini.
Filsuf itu menjelaskan, “Tahukah kamu? Ketika bangsa kita
masih barbar dan hidup dalam masa kegelapan,
India sudah memiliki peradaban yang jauh lebih maju.
Itu ditunjukkan dengan berkembangnya pemikiran spiritual.
Hanya peradaban yang maju bisa memikirkan hal-hal seperti itu.”


1.  PENDAHULUAN
India terkenal dengan filsafat spiritual yang sangat kaya dalam menunjukkan petunjuk ideal tentang hidup. Filsafat India tidak hanya menyajikan intelektualitas tapi juga menyentuh jantung eksistensi yang mengarah pada perbaikan diri. Umumnya orang hanya mengenal India sebagai asal dari agama Hindu dan Buddha. Penyebutan Hindu itu sendiri terlalu luas. Kenyataannya Hindu itu sendiri memuat beberapa sistem filsafat. Secara populer, orang mengenal ajaran Hindu dalam epos Mahabharata dan Ramayana yang mendunia. Penyebutan Hindu itu sendiri ada ketika orang Islam menyebut orang yang beragama berbeda di lembah Indus. Hindu mengacu pada agama orang-orang yang tinggal di sekitar lembah Indus. Sementara agama Buddha akhirnya lenyap di India namun menyebar melampaui batas benua asalnya.

Dalam tulisan ini, saya menjelaskan sejarah filsafat India secara singkat. Tujuan saya adalah menjadikan tulisan ini sebagai pengantar awal sebelum mungkin pembaca nantinya mempelajari filsafat India tertentu secara lebih mendalam. Bagi mereka yang tertarik dengan latihan spiritual, memahami filsafat India bisa menjadi rujukan utama dan dapat diandalkan. Sejarah filsafat India menunjukkan evolusi pemikiran dan spiritual yang mungkin menjadi pemikiran yang sama dengan yang sedang kita alami. India adalah laboratorium yang menampung banyak pelajaran karena telah menghasilkan banyak sistem filsafat. Ada keunikan mendasar dalam sejarah filsafat India. Dunia Barat pada akhirnya mengakui kecanggihan sistem pemikiran India. Sementara sekarang ini banyak orang Timur justru tidak tahu menahu identitas dirinya. Cenderung mengikuti gaya hidup Barat, suatu sikap dan gaya hidup yang sudah banyak ditinggalkan oleh orang Barat itu sendiri.

2.  PRA-VEDA
Memahami sejarah filsafat India, kita mesti tahu latar belakang sebelum masuknya bangsa Arya yang nantinya membawa Veda dan menetapkan sistem kasta. Veda disebut sebagai literatur India kuno paling awal. Max Muller menyebutkan Veda ada tahun 1200 SM. Hang tahun 2400 SM, dan Balgangadhara Tilak menyebutkannya lebih lama lagi yaitu sekitar 4000 SM.

Sebelum masuknya bangsa Arya, lembah Indus sudah memiliki peradabannya sendiri, kebudayaan Dravida, dengan peninggalan Mahenjo Daro yang berawal sekitar 4000 SM. Dari reruntuhan situs menunjukkan bahwa bangsa Dravida yang dicirikan bertubuh pendek, berkulit gelap dan berhidung pesek, memiliki bentuk religi yang menghormati kultus lingga dan praktik bertapa yang lebih mengarahkan diri kedalam. Ada juga peninggalan bangsa Dravida dalam memuja dewi ibu. Bangsa Arya merupakan satu rumpun dengan bangsa Mesir dan Indo Jerman, yang bercirikan bertubuh tinggi, hidung mancung, mata lebar dan kulit putih. Bangsa Arya gemar berperang dan lebih progresif dalam menaklukkan lawan-lawannya. Semangat seperti ini juga nampak dalam himne-himne Veda. Agama yang ditampilkan bangsa Arya lebih berorientasi ke luar seperti memuj dewa-dewa yang mewakili kekuatan alam. Masa berkuasanya bangsa Arya juga membuat adanya pergeseran cara hidup nomaden menjadi bertani. Dari situlah peradaban bangsa Arya dibangun.

Ketika bangsa Arya menguasai bagian barat laut dan utara tengah, bangsa Dravida menjadi kasta bawah. Namun kemuliaan bangsa Dravida tidak sepenuhnya lenyap di bagian timur laut. Nantinya religi bangsa Dravida bangkit kembali dengan munculnya Jainisme. Ada dugaan kuat bahwa tantra yang berkembang belakangan adalah bentuk religi awal bangsa pribumi ini karena simbol lingga juga menjadi bagian dari simbol tantra.

Seperti yang sudah saya sebutkan, bentuk awal agama bangsa Arya lebih berorientasi keluar lalu mulai mengalami pembalikan ke dalam dengan mengadopsi agama bangsa Dravida. Pada masa munculnya Brhadaranyaka Upanisad –salah satu bagian dari Veda—sekitar 2000-900 SM, nampak adanya pergeseran penekanan pada orientasi ke dalam. Penemuan religi ini adalah kalimat sayasca ayam puruse yasca ditye sa ekah (dia yang ada dalam manusia dan dia yang ada di matahari adalah satu, dan Satyam Brahman (the true brahman) adalah aham (cahaya) di dalam matahari dan aham (saya) didalam manusia. Konsep Ketuhanan Veda adalah Brahman, yang sering disimbolkan seperti cahaya, sebagai sumber utama.

Kebudayaan pra-Arya (Dravida) bukan hanya tradisi kontemplatif seperti meditasi. Ada juga pemujaan populer pada dewa-dewa tertentu. Bangsa Arya tidak menghancurkan semuanya tapi mengubah bentuk pemujaan pra-Arya dan juga dewa-dewa Arya sebagai simbol tahapan proses spiritual. Bangsa Arya memuja kekuatan alam, itu nampak dari dewa-dewa yang menunjukkan kekuatan alam yang mengontrol hidup manusia. Namun kesibukan filosofis bangsa Arya akhirnya mengarah pada pemahaman bahwa keselamatan bukan dari luar tapi dari dalam diri manusia sendiri. Walaupun demikian, kultus dewa tetap dilakukan namun terarah pada jalan pengenalan diri, yang berpuncak pada realisasi atman atau nirvana, bukan berorientasi pada surga atau tujuan-tujuan duniawi. Tujuan manusia bukan lagi pada kesenangan (kama), kesuksesan (artha) saja, tapi juga pada kewajiban (dharma), dan juga kebebasan atau keselamatan (moksha).

3.  VEDA 
Veda dikenal sebagai literatur awal India kuno, paling tidak dalam bentuknya yang lebih tertata, karena memang menjadi sumber rujukan bangsa Arya.
Dr. Radhakrishnan membagi periode filsafat India dalam empat periode:
1.    Periode Veda,
2.    Periode Epik,
3.    Periode Sutra, dan
4.    Periode Sekolah (school).

Periode Veda terhitung 1500 -600 SM. Artinya, Veda tidak disusun dalam satu masa, tapi dalam kurun waktu yang lama, hingga akhirnya menjadi empat bagian, yaitu: Rig Veda, Yajur Veda, Sama Veda, dan Atharva Veda. Masing-masing bagian terbagi dalam empat bagian, yaitu: samhitas (mantras), brahmana, aranyakas, dan upanisad.
Khrisna dan Arjuna dalam Maha Barata

Pada periode Epik, filosof spiritual menyelamatkan kekayaan spiritual dalam bentuk Sutra. Sutra adalah kalimat epikgramatis dalam bentuk syair. Periode ini terhitung 600 SM- 200 M. Pada periode ini Badarayana menulis Brahma-Sutra atau juga disebut sebagai Vedanta-Sutra. Sutra inilah yang menjadi fondasi sekaligus perbedaan interpretasi sistem filsafat di India.

Disebutkan ada enam sistem filsafat India yang menjadikan Brahma-Sutra sebagai dasarnya:
1.    Vaishesika,
2.    Nyaya,
3.    Samkhya,
4.    Yoga,
5.    Purva-mimamsa, sering disebut karma-mimamsa atau mimamsa, dan
6.    Uttar-mimamsa, sering disebut vedanta.
Enam sistem filsafat ini disebut juga sad-dharshana, yang digolongkan sebagai sistem ortodoks (astika). Pada periode Epik ini juga muncul sistem filsafat lain, yang digolongkan sebagai sistem heterodoks (nastika). Disebut heterodoks, karena mereka menolak otoritas Veda, seperti Carvakisme, Jainisme, dan Buddhisme.
Beriringan periode Sutra Periode adalah periode Sekolah (school) yang terhitung 200–1700 M. Pada periode ini, para filosof membuat komentar Sutra untuk memudahkan pemahaman siswa bahkan tiap filosof membuat versi pemahamannya sendiri. Filosof yang terkenal adalah Shamkaracharya, Ramanujacharya, dan Madhavacharya. Akhirnya Vedanta memiliki tiga sekolah: Advaita Vedanta versi Shamkaracharya, Vishishtadvaida Vedanta versi Ramanujacharya, dan Dvaita Vedanta versi Madhavacharya.

5.    SISTEM ORTODOKS 
5.1. NYAYA DAN VAISHESIKA
Nyaya didirikan oleh Gautama Aksapada (150 M). Nyaya berisi ajaran tentang logika seperti aturan debat dan beberapa subyek dasar seperti dunia materi, jiwa, Tuhan dan kebebasan.

Vaishesika didirikan oleh Kanada atau juga disebut Uluka yang hidup antara 200 M-400 M. Vaishesika  memuat teori unsur / atom dengan menggunakan logika yang ada pada Nyaya untuk analisa eksistensi material.

Vaishesika menjelaskan materi tersusun dalam empat unsur, yaitu: tanah, api, air dan udara. Ether (akasha) tidak termasuk. Penciptaan tergantung kehendak Sang kuasa yang mengatur alam semesta. Proses penciptaan dan penghancuran itu tanpa awal. Istilah penciptaan itu sendiri sebenarnya salah. Karena setiap penciptaan mesti melalui kehancuran lebih dulu, dan kehancuran mesti diawali penciptaan. Apa yang disebut penciptaan pada dasarnya hanya kehancuran bentuk lama dan menjadi sesuatu yang lebih baru.

Nyaya dan Vaishesika, keduanya, oleh penganut Vedanta dianggap sebagai batu loncatan filsafat Vedanta, yang bercirikan monisme.  Sedangkan Samkhya dan Yoga sebagai jembatan menuju Vedanta. Dengan kata lain, Nyaya dan Vaishesika menduduki filsafat yang paling dasar. Samkhya dan Yoga diatas mereka, dan yang paling puncaknya adalah Vedanta.

5.2. SAMKHYA
Samkhya secara harafiah berarti pengetahuan benar seperti angka. Didirikan oleh Kapila. Ada dugaan Kapila hidup sebelum Buddhisme lahir, karena itu untuk menghormatinya ada kota bernama Kapilavastu, yang juga merupakan kota kelahiran Sidharta Gautama (yang nantinya dikenal sebagai Buddha). Namun demikian para ahli berpendapat bahwa karya Samkhya-Sutra yang menurut tradisi adalah milik Kapila sendiri, tidak lebih awal dari 1380-1450 M.
Samkhya memuat analisis materi dan jiwa. Selanjutnya berkembang dalam dua bagian, yaitu theis (seswara) dan atheis (niriswara).  

Pokok ajaran Samkhya adalah pembagian realitas menjadi dua, yaitu: materi (prakrti) dan jiwa (purusa). Prakrti selalu berubah dan purusa selalu tetap dan bukan subyek yang berubah. Purusa disebut bebas dan berkesadaran murni. Bila purusa dan prakti ini terpisah, maka purusa terbebaskan. Maka arti pembebasan dalam Samkhya berarti pencapaian pada tingkat mengatasi alam.

Samkhya yang berkembang belakangan juga dipengaruhi Buddhisme. Vijnanabhiksu, seorang penulis Samkhya pada abad ke-16 M mencoba mengkaji ulang kebutuhan akan konsep Tuhan. Jika Tuhan memiliki keinginan, maka Tuhan tidak bebas. Jika Tuhan bebas, maka Tuhan tidak akan menciptakan dunia yang penuh penderitaan. Lalu dibawa pada dua alternatif pandangan. Tuhan itu tidak adil dan kejam, atau Tuhan itu tidak bebas dan tidak berkuasa. Jika ditentukan oleh hukum karma, maka Tuhan tidak bebas, sebaliknya Tuhan adalah tirani (seperti raja yang lalim karena sewenang-wenang). Jika Tuhan adalah pengetahuan murni, maka dunia materi tidak mencemarinya. Konsep purusa tidak konsisten dengan konsep Tuhan. Jika manusia adalah bagian dari Tuhan, maka manusia pasti punya kekuatan dan bisa melakukan apapun. Atheisme Samkhya kurang lebih memahami dari sudut pandang seperti ini.

Samkhya sering disebut sebagai dualis, realis dan pluralis. Disebut dualis karena memperkenalkan prakrti dan purusa. Disebut realis karena menganggap materi dan spirit sama. Pluralis karena purusa ada banyak, bukan cuma satu.

5.3. YOGA
Didirikan oleh Patanjali sekitar abad ke-2 SM. Patanjali mensistematisasi ulang filsafat yoga yang sebenarnya sudah ada pada zaman sebelumnya. Filsafat yoga dekat dengan Samkhya dan menggunakannya sebagai dasar praktik displin dan latihan yang mengarah pada pembebasan. Karena itu sering disebutkan bahwa Samkhya adalah teorinya dan Yoga adalah praktiknya. Yang berbeda dari Samkhya bahwa Yoga tidak menolak eksistensi Tuhan dan bersifat theis. Sedangkan Samkhya, seperti yang sudah saya jelaskan, terbagi dua, yaitu: theis dan atheis. Pembagian theis dan atheis itu sebenarnya kurang tepat juga, nanti akan saya jelaskan pada bagian Buddhisme.

Patanjali memahami Tuhan sebagai Purusa khusus yang selalu bebas dari penderitaan. Tuhan diluar dari hukum karma. Karenanya Tuhan tidak mengabulkan kebebasan. Devosi atau bentuk pemujaan pada Tuhan lebih sebagai sarana untuk meningkatkan konsentrasi. Tuhan hanya membantu menghilangkan halangan dan tidak melakukan apa-apa dalam hal kebebasan Purusa. Kebodohan batin (avidya) menyebabkan diskriminasi purusa dan prakrti. Akhir dari kehidupan manusia adalah bukan bersatunya dengan Tuhan tapi hanya terlepasnya purusa dari prakrti.

5.4. KARMA-MIMAMSA
Karma-Mimamsa sering disebut mimamsa saja. Didirikan oleh Jaimini (200 M / 450 M).  Mimamsa lebih banyak memaknai ritual Veda. Pada tahun 500 SM, ritual veda dipahami secara keliru oleh brahmana pada zaman itu, salah satunya adalah pengorbanan hewan.  Karena itu muncul Buddhisme yang berhadapan dengan Mimamsa. Penekanan pada tanpa kekerasan (ahimsa), bukan hanya dari Buddhisme tapi juga Jainisme. Karma-mimamsa yang didirikan Jaimini berbenah diri dengan memahami ritual veda yang mampu menghapus karma negatif dan mengarah pada kebebasan setelah kematian.

5.5. VEDANTA
Vedanta berarti akhir dari veda, karena merupakan perkembangan filsafat veda yang paling akhir dan puncak. Sistem Vedanta hadir ketika bagian akhir dari Veda muncul, yaitu Upanisad. Vedanta juga disebut uttara mimamsa yang berarti penyelidikan kedua, karena ajaran ini mengkaji Upanisad.
Vedanta memiliki beberapa sistem filsafat yang masing-masing memiliki tokohnya. Tiga yang paling terkenal adalah  Sankhara (788M-820/850M), Ramanuja (1175M-1250M) dan Madhva (1238-1278 M). Sesuai dengan Upanisad, semuanya menganggap Tuhan (Brahman) sebagai realitas tertinggi. Semua mengakuinya secara absolut, sesuai dengan monisme dalam Upanisad.  

Dalam Nyaya dan Vaishesika, hakikat diri adalah ada dan tanpa kesadaran. Samkhya dan Yoga, hakikat diri adalah ada dan kesadaran. Pada Vedanta, hakikat diri adalah ada, kesadaran dan bahagia (sat, cit, ananda).

Gaudapada yang diduga guru Govinda, yang adalah guru dari Sankhara pernah menyebutkan, “Tidak ada keteruraian, tidak ada perbudakan dan tidak ada calon Brahman; juga tidak ada orang yang sangat menginginkan kebebasan atau jiwa yang terbebas. Inilah puncak kebenaran.” Inilah yang menjadi ajaran paradoksal yang meniadakan diri dari Advaita (Vedanta versi Sankhara), yang selaras dengan teks-teks Buddhisme terutama ajaran tanpa diri (anatman/anatta).

Vedanta versi Sankhara menyatakan diri sebagai non dualisme (advaita), maksudnya tidak ada perbedaan antara Tuhan (Brahman) dan Diri (Atman). Tuhan adalah dasar dari seluruh pengalaman. Tuhan tidak sama dengan dunia, juga tidak berbeda, dan ada. Diri individual adalah  sama dengan Atman yang dibatasi. Moksa atau realisasi diri bisa dicapai dengan praktik devosi dan latihan  dan bisa dicapai selama orang masih hidup (tidak menunggu setelah kematian). Moksa bukan hancurnya dunia, dunianya tetap ada, hanya saja cara pandang terhadap dunia yang sudah berubah dan telah menyingkirkan kebodohan (avidya).
Guru Vedanta

Ungkapan terkenal dalam Vedanta: tat tvam asi (dia adalah dirimu). Menurut ringkasan pendahuluan ajaran ini yang dijabarkan dalam Vedantasara karya Sadananda abad ke-15. Diri ditutupi lima pelepah (lima pelais psikosomatis):
1.    Pelepah yang terbuat dari makanan, yang tidak lain adalah tubuh kasar atau dunia materi.
2.    Pelepah yang terbuat dari energi (prana).
3.    Pelepah yang terbuat dari pikiran (manas).
4.    Pelepah yang terbuat dari pemahaman (vijnana), atau tubuh halus.
5.    Pelepah yang terbuat dari kebahagiaan (ananda), atau tubuh kausal.
Tubuh kausal ibarat tutup kebodohan (avidya), pelepah paling bawah dari seluruh ciptaan dunia. Hanya pengetahuan (vidya) yang membebaskan diri dari pelepah ini.

Bentuk praktis dari Vedanta, seperti pada ringkasan “Spiritual teaching” karya Swami Brahmananda. Tahap-tahap jalan advaita Vedanta menuju pada kesadaran Tuhan (Brahman):
1.    Puja.
Puja artinya melakukan penyembahan eksternal dan mental. Mengabdikan diri pada dewa (ista-devata) pilihan.
2.    Meditasi dan japa mantra.
Menyebutkan nama suci secara berulang-ulang. Menyertakan visualisasi dewa. Merasakan kehadiran dewa, namun pada tahap lanjut tidak terbatas pada dewa. Jika sudah tidak terbatas pada dewa, maka pikiran memasuki savikalpa samadhi, lalu ke nirvikalpa samadhi, segalanya hilang dan masuk pada ketakterhinggaan. Inilah yang dimaksud dengan kesadaran Tuhan.

Setelah Sankhara, ada Ramanuja dan Madhava. Ramanuja hidup pada abad ke-11, ketika pengaruh agama Kristen di India dan lenyapnya Buddhisme di India. Ramanuja menyebutkan penyebab keberadaan bukanlah kebodohan tapi ketidakpercayaan dan pembebasan diraih dengan mengabdi pada Tuhan. Karena itu ajaran Ramanuja lebih populer dalam bentuk pemujaan. Bentuk pemujaan Ramanuja didasari bahwa Brahman secara abadi bebas dari ketidakmurnian, dan materi atau dunia dan diri, hanyalah bagian dari tubuh Brahman. Satu Brahman memiliki dua bentuk, yaitu: Diri dan materi. Ramanuja menolak ajaran fenomenalitas dunia dan menyatakan Brahman sebagai personal. Keselamatan bukanlah pelarutan pada Brahman, melainkan membebasan dari halangan-halangan yang membatasi. Setinggi-tingginya manusia merealisasikan diri, Brahman tetap yang paling tinggi, karena itu mesti menghormatinya, berbakti dan melayaninya. Inilah yang menjadi dasar pemujaan dalam ajaran Ramanuja.

Vishishtadvaida versi Ramanuja mengakui adanya dua realitas, yaitu: realitas yang berdiri sendiri (sawatantra) yaitu Tuhan, dan realitas yang tergantung dengan yang lain (paratantra). Berbeda dengan Advaita yang hanya mengakui Brahman yang nyata, yang lain tidak. Vishishtadvaida juga disebut sebagai Advaita dengan atribut. Maksudnya: Hanya Brahman yang ada, sedangkan yang lain hanya atribut (visesa). Atribut itu nyata tapi tetap tergantung pada Brahman.

Madhava adalah pendiri ajaran Dvaita yang hidup tahun 1238-1278 M. Madhava pada mulanya belajar pada Ashutyapreksa namun akhirnya tidak puas dengan interpretasi non dualis (advaita) gurunya itu.  Ajaran Madhava  termasuk personal theism.  Tuhan adalah Hari, Vishnu, Narayana dan Vasudeva.  Madhava memuja Tuhan dalam bentuk dewa Visnu. Madhava juga membagi realitas seperti Ramanuja, yaitu:  realitas yang berdiri sendiri dan realitas yang tergantung. Diri (jiva) adalah kekal (eternal), tapi tergantung dengan Tuhan. Ungkapan Vedanta: tat tvam asi (dia adalah dirimu), tidak sepenuhnya Diri dan Tuhan adalah sama. Yang sama hanyalah ezensinya. Penekan bhakti dalam Madhava adalah devosi sepenuhnya dan sepenuhnya pasrah pada Tuhan, yang menjadi jalan keselamatan.

6.   SISTEM NON ORTODOKS 
6.1.  CARVAKISME
Carvakisme atau Carvaka merupakan salah satu sistem non ortodoks yang kuno dan kini tidak berkembang lagi.  Cara pandang paham ini adalah materialis, dimana hanya materi sebagai satu-satunya kebenaran. Carvakisme memahami adanya empat unsur, yaitu: tanah, air, api dan udara. Tapi tidak menerima konsep akasha, jiwa, dan Tuhan.

Referensi tentang Carvakisme juga ditemukan dalam epik dan naskah Buddhisme awal. Brhaspati, dikenal sebagai pendiri Carvaka. Dalam majjima Nikaya, dikenal seorang bernama Ajita Kesakambali, yang seorang materialis. Ajita memiliki pemikiran fatalistik, yang menyebutkan perbuatan baik tidak memiliki akibat, tidak ada kehidupan setelah kematian. Materialisme menganjurkan pengejaran nafsu keinginan (kama) dan kesuksesan (artha). Sedangkan kewajiban (dharma) dan kebebasan (moksa) ditolak olehnya.

6.2.  JAINISME
Jainism berasal dari kata “jina”, yang berarti penaklukm penakluk ketamakan dan keinginan. Jainisme menolak otoritas Veda dan mengaku tidak berasal dari Brahman-Arya tapi merepresentasikan  kosmologi dan antropologi pra-Arya (bangsa Dravida). Pertapa jain mengejutkan kelompok raja Alexander ketika menaklukkan India. Mereka menyebut para Jain sebagai gypnosof,  filosof telanjang, karena sebagian dari pertapa jain berpenampilan telanjang. Jainisme terbagi dua, yaitu mereka yang memakai jubah putih (svetambaras), dan yang telanjang (digambaras)
Pendiri Jainisme tidak diketahui dengan pasti tapi konon mengacu pada guru-guru peradaban pra-Arya. Dikenal Parscva sebagai pemimpin Jain ke-23 (872-772SM). Dan Mahavira adalah pemimpin ke-24, yang hidup sezaman dengan Buddha. Dalam naskah Buddhisme awal, Mahavira juga dikenal dengan nama Nigantha Nataputta. Pemimpin Jain yang lain adalah Mikkhali Gosala, yang mengajarkan ajaran deterministik. Gosala sebelumnya adalah murid Mahavira, namun berselisih pandangan dan mempimpin kelompoknya tersendiri.

Jainisme menganggap jiwa sebagai mahkluk kecil seukuran ibu jari yang bersemanyam di dalam hati. Tubuh adalah pakaian dan sel kehidupanlah yang menggerakkan tubuh.  Kebebasan jiwa bisa ditempuh dengan menaklukkan ketamakan dan keinginan dan karma. Jain menjunjung tinggi prinsip tanpa kekerasan (ahimsa). Perjalanan individu menuju kesempurnaan hanya manakala sel kehidupan tidak terkontaminasi oleh karma. Sel kehidupan terkotori oleh karma, karena itu untuk memiliki sel kehidupan yang murni pintu indria sebagai jalannya karma harus ditutup dan dijaga ketat. Proses pembersihan terjadi dengan disiplin yang keras, menyiksa diri, hingga tidak membedakan antara kesenangan, kesakitan, menjijikkan bahkan membahagiakan. Pertapaan yang keras membakar benih-benih karma yang membuat sel kehidupan menjadi semakin murni.

Kelompok Digambaras dalam Jain adalah Tirthankaras, yang hidup sebelum Buddha, yang konon hidup tanpa makan. Ciri unik Digambaras lainnya bahwa pertapa yang memiliki properti tidak akan bisa moksa, dan juga wanita tidak bisa moksa.
Mikkhali Gosala yang pernah bersama Mahavira memiliki pandangannya sendiri tentang proses pembersihan atau keselamatan. Menurutnya keselamatan tidak bisa dipercepat. Kesempurnaan akan terjadi dengan sendirinya jika saatnya sudah tepat. Ajaran deterministik Gosala menyebutkan bahwa usaha untuk moksa adalah sia-sia. Evolusi spiritual tidak bisa dipaksakan. Tidak ada juga manfaat devosi pada dewa yang mencampuri proses penyempurnaan. Analogi yang digunakan adalah seperti bola benang yang dilempar akan mengurai benang dan berhenti ketika gulungan benang sudah habis.  
6.3. BUDDHISME
Sistem non ortodoks lain adalah Buddhisme, yang didirikan oleh Sidharta Gautama atau lebih dikenal sebagai Buddha (563-483SM).  Buddhisme berkembang melampau batas benua India.

Kerangka dasar Buddhisme didasari ajaran tentang empat kebenaran mulia (cattari arya sacca), yang terdiri dari kebenaran tentang penderitaan, sebab penderitaan, lenyap penderitaan dan jalan menuju lenyapnya penderitaan. Pendekatan Buddhisme tidak menjadikan dewa ataupun otoritas ilahi sebagai pusat perhatian, tapi lebih pada aspek psikologi dasar manusia bahwa masalah utama adalah penderitaan, karena itu tujuan hidup adalah kebahagiaan, yang puncaknya adalah nirvana atau terbebasnya dari penderitaan secara total. Proses pembebasan melibatkan latihan kemoralan (sila), meditasi (samadhi), dan kebijaksanaan (panna), yang memperhatikan jalan tengah (majjima patipada).

Jalan tengah artinya menghindari perilaku ekstrim, yaitu ekstrim pemanjaan hidup pada kesenangan indria, atau juga bertapa ekstrim dengan menyiksa diri. Jalan tengah adalah sikap Buddhisme terhadap Carvakisme dan Jainisme.

Moksa bisa dicapai pada kehidupan ini, bukan setelah kematian. Karena Buddhisme tidak melibatkan  hal-hal ilahi, moksa adalah mencapai nirvana, yang juga berarti bebasnya nafsu keinginan (tanha), atau juga terputusnya siklus kelahiran kembali (samsara). Nirvana bisa dicapai dalam kehidupan ini. Jika sudah mencapai nirvana, maka setelah mati tidak akan terlahirkan kembali. Nirvana juga berarti hilangnya kebodohan (avidya) dan tercapainya pengetahuan (vidya) sempurna.
Ada perbedaan konsep karma antara Jainisme dengan Buddhisme. Dalam Jainisme, semua tindakan akan memberikan akibat karma. Karena pertapa Jain sangat disiplin untuk tidak berbuat tindakan yang dianggap merugikan mahkluk lain termasuk yang tidak disengaja. Sementara dalam Buddhisme hanya perbuatan yang disertai niat (cetana) sajalah yang memberikan akibat karma.
 
Buddhisme juga memiliki kesamaan dengan Jainisme mengenai usaha pembebasan. Berbeda dengan paham deterministik dari Mikkhali Gosala yang menyebutkan bahwa usaha itu tidak perlu. Usaha (viriya) itu perlu dan proses penyempurnaan bisa dipercepat dengan disiplin dan latihan.

Sebuah ciri khas lain dari Buddhisme adalah ajaran tentang tanpa aku (anatta/anatman). Diri sejati itu tidak ada, karena itu disebut anatman, sebuah ajaran yang berlawanan dengan paham atman. Apa yang disebut Aku (Atman) itu hanya kumpulan agregat seperti kesadaran, persepsi, sensasi dan bentuk-bentuk pikiran. Agregat itu disebut panca kandha, suatu arus perubahan terus menerus yang tidak ada ezensinya yang permanen. Justru karena kemelakatan terhadap sang Aku inilah yang membuat penderitaan terjadi. Merealisasikan anatta adalah salah satu tahapan latihan dalam teknik meditasi yang diajarkan Buddha.

Buddha pernah memberikan perumpamaan bahwa ajarannya hanya sebanyak segenggam daun di tangan. Masih banyak daun-daun lain di hutan, namun daun digenggaman tangan ini mampu membebaskan diri dari penderitaan. Bentuk praktis Buddhisme adalah penghindaran spekulasi filosofis yang terlalu rumit, yang sering tidak bisa mengatasi penderitaan dan mencapai kebahagiaan. Karena itu Buddhisme juga sering disebut psikologi tanpa psike (sinonim dengan Atman).
Beberapa sarjana menggolongkan ciri non ortodoks dalam Buddhisme sebagai atheisme. Namun jika kita mencermati lebih mendalam, atheisme adalah rival dari theisme. Dalam theis ada yang mutlak, yang disebut Brahman. Sementara atheisme menolak yang mutlak. Brahman diterjemahkan Tuhan. Berbeda dengan penekanan arti nirvana sebagai tujuan Buddhisme. Nirvana juga mutlak, namun bukan personal, dan pencapaian nirvana bukanlah realisasi yang obyektif. Karena nirvana bebas dari kondisi (sankhata). Buddha menyebutkan nirvana sebagai hal yang tidak terkondisi (asankhata). Sarjana belakangan menggolongkan Buddhisme sebagai paham non theis, untuk membedakan dua kutub, yaitu theis dan atheis.

Beberapa sarjana juga menggolongkan Buddhisme sebagai nihilis. Ini juga kurang tepat. Sang Buddha memahami hal ini, seperti yang dapat kita lihat dalam cerita tentang Vacchagotta, yang takut dan bingung terhadap doktrin anatman. Vacchagotta, yang juga seorang pertapa menanyakan beberapa hal penting pada Buddha, seperti: Apakah atman itu ada? Apakah atman itu tidak ada? Buddha hanya diam dan tidak menjawab. Lalu Vacchagotta pergi. Salah satu murid Buddha bernama Ananda bertanya mengapa Buddha hanya diam dan tidak menjawab. Buddha menjelaskan bahwa Vacchagotta sedang mengalami kebingungan tentang atman, dan jika dijawab bahwa atman itu ada, berarti Buddha mengajarkan paham eternalistik, teori jiwa yang kekal, yang tidak disetujuinya. Namun, bila Buddha menjawab bahwa atman itu tidak ada, Vacchagotta akan berpikir Buddha mengajarkan paham nihilistik, paham yang mengajarkan bahwa makhluk hidup hanyalah suatu organisme batin-jasmani yang akan musnah total setelah kematian.

Setelah raja Asoka (274-237 SM) memerintah, Buddhisme berkembang sangat pesat di India. Misionaris yang dikirim Asoka dan menuai hasil adalah di Srilangka, yang termasuk aliran Theravada, ketika waktu itu belum muncul aliran Hinayana dan Mahayana. Hinayana dan Mahayana muncul setelahnya dan itu menandai masuknya periode sekolah Buddhis (Buddhist School). Pada periode ini, muncul sistem filsafat Madhyamika yang disistematisasi oleh Nagarjuna (200 M). Lalu, Yogacara (vijnanavada) yang didirikan oleh Asanga (350 M) dan Vasubhandu. Dua sistem filsafat Buddhis inilah yang menjadi fondasi Mahayana berikutnya, termasuk tantra Buddhis atau yang lebih dikenal sebagai Vajrayana. Aliran Mahayana berkembang di Cina, Vietnam, Korea dan Jepang. Sementara Aliran Vajrayana berkembang di Tibet, Butan, dan Mongolia. Theravada sendiri setelah Srilangka, menyebar ke Myanmar, Laos, dan Thailand. Sedangkan Hinayana tidak berkembang ke luar dari India.

7.   PENUTUP 
Sejarah filsafat India adalah evolusi pemikiran manusia yang mengarah pada spiritualitas. Saya memilih menulis filsafat India karena budaya Jawa dan mungkin budaya lokal lainnya juga memiliki akar yang sama dengan filsafat India. Jika kita cermati, setiap sistem filsafat berkembang dengan caranya sendiri dan merupakan reaksi dari keadaan yang diramaikan dengan perbedaan interpretasi akan nilai hidup. Bentuk primitif agama, pada mulanya adalah pemujaan keluar, yang lebih sebagai sandaran psikologis dalam diri manusia, lalu menjadi mengarah kedalam, mengarah pada pemahaman diri, yang membawa transformasi diri yang lebih baik. Memanglah tepat istilah Jawa “ageman”. Agama memang hanya pakaian (baca: ageman), hanya bentuk luar, yang didalamnya mesti ada refleksi diri dan pencarian ke dalam. Walaupun demikian, pencarian spiritual tidak bisa dipaksa, diatur secar mekanis, atau juga dijadikan standar moral tertentu. Seperti yang dikatakan Mudji Sutrisno, “...filsafat Timur lebih berupa suatu penawaran yang praktis mengenai kebahagiaan manusia. Orang tetap bebas menghadapi penawaran ini.”

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

0 komentar:

Posting Komentar

Follow Me

Facebook  Fanspage Twitter  Google+ Instagram gmail